Iklan

,

Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Positif

Minggu, 27 November 2022, 23.16 WIB Last Updated 2022-11-27T16:16:37Z



Kabar Nusantara - Kenaikan surplus perdagangan Oktober 2022 disebabkan pertumbuhan ekspor dan penurunan impor bulanan.

Optimisme masih menghinggapi benak para pelaku ekonomi Indonesia. Pasalnya, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan harapan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih tetap tumbuh, meski harus bekerja lebih keras lagi ke depannya.


Dalam konferensi pers BPS, pada Selasa (15/11/2022), dilaporkan neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus USD5,67 miliar pada Oktober 2022, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar USD4,99 miliar. Kinerja neraca perdagangan selama Oktober itu tercatat melanjutkan tren positif beruntun, selama 30 bulan.


Lembaga itu juga menyebutkan, surplus perdagangan Oktober 2022 disebabkan pertumbuhan ekspor dan penurunan impor secara bulanan (month to month/mtm). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor nasional tumbuh 0,13 persen secara bulanan menjadi USD24,81 miliar pada Oktober 2022 dan tumbuh 12,3% secara tahunan (year on year/yoy) dari USD22,09 miliar.


Namun, BPS menyebutkan, pertumbuhan ekspor secara tahunan melambat dibandingkan September 2022 yang mencapai 20,3 persen. Ini dipicu penurunan harga komoditas andalan ekspor, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebesar 2,24 persen secara bulanan, bijih besi 7,26 persen, nikel 3,25 persen, dan gas alam 27,61 persen.


Sementara itu, nilai impor Oktober 2022 mencapai USD19,14 miliar, turun 3,4 persen secara bulanan dan naik 17,44 persen secara tahunan. Pertumbuhan impor secara tahunan juga melambat dibandingkan September sebesar 22 persen.


BPS juga melaporkan penurunan impor secara bulanan disebabkan koreksi dalam impor logam berharga sebesar 35,97 persen akibat penurunan harga, bahan bakar mineral 19,44 persen, dan kapal, perahu, dan struktur terapung sebesar 77,15 persen.


Pada kesempatan itu, BPS juga melaporkan impor barang konsumsi tercatat naik 10 persen secara bulanan menjadi USD1,7 miliar Oktober 2022. Laju ekonomi Indonesia, terutama sektor manufaktur juga harus mewaspadai impor bahan baku/penolong dan barang modal yang turun masing-masing 3,99 persen dan 7,22 persen menjadi USD14,3 miliar dan USD3 miliar.


Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, perdagangan migas masih defisit USD1,9 miliar pada Oktober 2022. Pada bulan itu, ekspor migas mencapai USD1,375 miliar, naik dibandingkan September sebesar USD1,31 miliar, sedangkan impor migas mencapai USD3,3 miliar, turun dari USD3,4 miliar.


Peningkatan ekspor migas didorong oleh kenaikan ekspor gas sebesar 8,34 persen dan hasil minyak 9,02 persen. Sementara itu, perdagangan nonmigas mencetak surplus USD7,66 miliar pada Oktober 2022.


Bulan itu, ekspor nonmigas mencapai USD23,4 miliar, turun 0,14 persen dari bulan sebelumnya, sedangkan impor nonmigas USD15,7 miliar, turun dari USD16,3 miliar.


Penurunan ekspor nonmigas disumbangkan komoditas bijih logam, terak, dan abu sebesar 38,57 persen, lalu mesin dan perlengkapan elektrik, serta bagiannya 5,92 persen, dan pulp dari kayu (HS 47) sebesar 20,58 persen.


“Penurunan ekspor nonmigas melanjutkan tren September 2022. Bulan itu, ekspor nonmigas turun 10,35 persen," ujarnya, Selasa (15/11/2022).


 


Neraca dengan G20


Untuk kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara G20, Setianto memaparkan, neraca perdagangan Indonesia dengan negara anggota G20 selama Januari--Oktober 2022 surplus USD27,6 miliar. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode sama 2021 sebesar USD16,4 miliar.


Indonesia membukukan surplus perdagangan dengan sembilan negara anggota G20, yaitu Amerika Serikat, India, Uni Eropa, Jepang, Italia, Turki, Meksiko, Korea Selatan, dan Inggris. Namun, Indonesia mencetak defisit perdagangan dengan 10 negara lainnya, yakni Prancis, Jerman, Rusia, Afrika Selatan, Kanada, Argentina, Brasil, Tiongkok, Arab Saudi, dan Australia.


Setianto menjelaskan, ekspor nonmigas utama Indonesia ke anggota G20 meliputi bahan bakar mineral (HS 27) senilai USD30,55 miliar, diikuti besi dan baja (HS 72) USD18,7 miliar, lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) USD17,89 miliar, serta biji logam, terak, dan abu (HS 26) USD 7,14 miliar.


Merespons kinerja neraca perdagangan itu, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyatakan, surplus neraca perdagangan Indonesia Oktober 2022 sebesar USD5,67 miliar di atas proyeksinya sebesar USD4,42 miliar dan konsensus analis USD4,5 miliar. Per Oktober 2022, surplus neraca perdagangan mencapai USD45,5 miliar, naik dibandingkan periode sama tahun lalu USD30,9 miliar dan melampaui torehan sepanjang 2021 sebesar USD35,4 miliar.


Faisal pun menilai, laju impor mulai mengejar kenaikan ekspor ditopang kuatnya pemulihan ekonomi domestik. Di saat yang sama, penguatan harga komoditas diprediksi makin terbatas. Sebab, sejumlah bank sentral menaikkan suku bunga acuan, yang bisa melemahkan permintaan komoditas.


“Ini akan memicu perlambatan ekspor. Itu sebabnya, surplus neraca perdagangan diprediksi mengecil dalam beberapa bulan ke depan. Hingga akhir 2022, neraca transaksi berjalan surplus 1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih besar dari 2021 sebesar 0,28 persen,” ujarnya.


Perekonomian global diprediksi diselimuti awan gelap di tahun depan. Sesuai dengan laporan World Economic Outlook terbaru yang menyebut, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi global tumbuh hanya 2,7 persen pada 2023, setelah tahun ini hanya tercatat 3,2 persen.


Walau begitu, komoditas Indonesia masih memiliki ruang. Terutama, memanfaatkan pasar negara mitra dagang utama yang tercatat masih mengalami pertumbuhan, yang terlihat dari kinerja neraca dagang selama triwulan III-2022.


Di sisi lain, ekonomi dunia tahun depan diprediksi membaik seiring dengan adanya upaya sejumlah negara dunia yang berusaha mendinginkan tensinya, termasuk urgensi untuk segera menghentikan perang Ukraina-Rusia yang dinilai menjadi biang kerok ketidakpastian ekonomi global.


Akankah mimpi itu terwujud? Perekonomian dunia menggeliat kembali seiring adanya seruan yang kuat, yakni segera terciptanya perdamaian yang berhembus kencang dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.


 


Penulis: Firman Hidranto

Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari