Iklan

,

Inovasi Energi dari Desa: Edukasi Pemanfaatan Limbah Tembakau Jadi Briket Alternatif

Kabar Nusantara
Senin, 25 Agustus 2025, 15.55 WIB Last Updated 2025-08-25T15:13:13Z


Kabar Nusantara - Ketangga, Lombok Timur – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PMD Universitas Mataram (Unram) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pemanfaatan Limbah Batang Tembakau sebagai Bahan Bakar Alternatif Berupa Briket di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, pada Selasa, 29 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja utama mahasiswa KKN Desa Ketangga 2025 sebagai kontribusi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi energi berbasis potensi lokal.


Limbah batang tembakau tersedia melimpah di daerah sentra pertanian tembakau seperti Desa Ketangga, sehingga pemanfaatannya sebagai briket tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah pertanian, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Selain itu, proses pembuatan briket dari batang tembakau relatif sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat dengan peralatan yang mudah dijangkau, sehingga berpotensi menjadi peluang usaha baru yang mendukung kemandirian ekonomi pedesaan.


Sosialisasi ini menghadirkan tiga narasumber dari instansi dan pelaku usaha yang berkompeten di bidangnya. Narasumber pertama berasal dari Dinas Perindustrian Lombok Timur, Muhammad Buhari, ST yang memaparkan mengenai prospek ekonomi pembuatan briket dari limbah tembakau. Dalam pemaparannya, dijelaskan bagaimana limbah pertanian, khususnya batang tembakau, dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yang lebih bersih dan efisien. Dinas ini juga menguraikan dukungan regulasi bagi usaha mikro dan skema bantuan peralatan sederhana bagi pelaku UMKM.


Narasumber kedua Mirzan Sophian, SP selaku Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Lombok Timur memberikan perspektif teknis terkait karakteristik batang tembakau sebagai bahan baku. Penjelasan mencakup cara pengeringan, pencacahan, serta proses pra-produksi yang menentukan kualitas briket. Pemateri juga menekankan pentingnya kolaborasi petani dan pemuda desa untuk mengoptimalkan limbah pasca panen menjadi produk yang memiliki nilai jual.


Selanjutnya, narasumber ketiga M. Rido Fajri, SP adalah seorang pengusaha muda lokal yang telah berhasil mengembangkan usaha briket dari limbah organik. Ia membagikan pengalaman langsung mulai dari proses produksi, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran briket secara lokal. Pemaparan ini memberikan inspirasi bagi warga untuk melihat potensi limbah sebagai sumber penghasilan alternatif.


Kegiatan berlangsung di aula kantor desa dan dihadiri oleh puluhan warga dari berbagai kalangan. Salah satu sesi yang paling diminati adalah demo pembuatan briket, yang dipandu langsung oleh mahasiswa KKN. Proses dimulai dari pencacahan limbah tembakau, pencampuran bahan perekat alami, pencetakan menggunakan alat manual, hingga pengeringan awal. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut serta mencoba membuat briket secara langsung.


Antusiasme warga terlihat dari aktifnya sesi praktik dan diskusi. Banyak peserta menanyakan perbandingan efisiensi briket tembakau dengan kayu bakar, serta potensi pemasaran jika produksi dilakukan dalam skala kelompok. Tidak sedikit warga yang menyatakan minat untuk membentuk kelompok usaha briket desa pasca kegiatan ini.


Ketua Kelompok KKN PMD Desa Ketangga menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi dan edukasi lingkungan. Limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak bernilai, melalui edukasi ini diubah menjadi sumber energi dan peluang usaha. Ia berharap program serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan pemerintah desa dan dinas terkait.


“Kami ingin masyarakat desa melihat bahwa limbah pun bisa bernilai. Melalui kegiatan ini, kami mencoba membuka wawasan dan melatih keterampilan dasar agar masyarakat mampu mandiri mengolah limbah menjadi produk bermanfaat,” ujarnya.


Mahasiswa KKN Desa Ketangga 2025 berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi pemantik semangat masyarakat Desa Ketangga dalam menciptakan inovasi berbasis potensi lokal dan kemandirian energi di tingkat desa.