Sinyal Pemulihan Ekonomi Membaik, APBN Bekerja Keras -->

Sinyal Pemulihan Ekonomi Membaik, APBN Bekerja Keras

Jumat, 23 April 2021



Kabar Nusantara - Hingga pertengahan bulan April 2021, kasus harian Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren yang menurun, namun di sisi lain tren kasus global meningkat. Perkembangan positif ini harus terus dijaga melalui konsistensi penerapan 3M dan 3T serta percepatan program Vaksinasi. Sampai dengan tanggal 19 April 2021, data menunjukkan bahwa program Vaksinasi telah dilakukan di 156 negara dengan total dosis yang telah diberikan sebanyak 910 juta dosis, dan 17,02 juta dosis vaksin telah diberikan di Indonesia.


Pemulihan PDB global dalam rilis World Economic Outlook April 2021 oleh IMF terlihat semakin nyata, didorong implementasi vaksin, pemberian tambahan stimulus fiskal, serta perkembangan indikator ekonomi terkini yang terus menguat. PDB Global 2021 diperkirakan tumbuh sebesar 6,0 persen, sejalan dengan proyeksi OECD sebesar 5,6 persen dan World Bank 4,0 persen. Perubahan dan perbedaan proyeksi antar institusi masih bersifat dinamis, menunjukkan kondisi yang volatile dan ketidakpastian yang tinggi. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok Kuartal 1 Tahun 2021 mencatat rekor, yaitu sebesar 18,3 persen (yoy) didorong sisi konsumsi yang semakin kuat. Perekonomian Tiongkok yang terus membaik diharapkan dapat memberi confidence global, termasuk pada Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama. Meskipun demikian, perlu diwaspadai risiko pertumbuhan ekonomi akibat munculnya varian baru virus Corona, belum meratanya akses vaksinasi, belum pulihnya sektor yang contact intensive, kemungkinan normalisasi kebijakan moneter AS yang lebih cepat, pemulihan ekonomi global yang tidak merata dan proteksionisme perdagangan global.


Sementara dari sisi domestik, perekonomian di bulan Maret terus membaik. Berbagai intervensi ekonomi telah dilakukan melalui perbaikan berbagai kebijakan dalam mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan. Leading indicator menunjukkan perbaikan di bulan Maret sesuai ekspektasi sebagai efek dari penerapan PSBB di awal pandemi, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Penjualan Mobil, Konsumsi Listrik, Google Mobility, PMI, serta Ekspor-Impor. Hal ini tak lepas dari kerja keras APBN yang dikelola secara optimal dan akuntabel. Pemerintah terus mendorong belanja produktif dan mempercepat pembiayaan investasi seiring dengan membaiknya penerimaan negara. Selain itu, Pemerintah juga terus memperkuat sektor kesehatan melalui percepatan vaksinasi dan penerapan PPKM, serta mengakselerasi kinerja dan produktivitas ekonomi melalui stimulus di berbagai sektor. Demikian disampaikan pada publikasi APBN Kita edisi April 2021.


Tren Pemulihan Ekonomi Indonesia Berlanjut di Bulan Maret


Sinyal pemulihan ekonomi terus berlanjut seiring perluasan pemberian vaksin dan kebijakan PPKM yang terkendali. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2021 menguat, terealisasi sebesar 93,4, dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2020. Aktivitas konsumsi masyarakat juga menunjukkan perbaikan, dan diperkirakan akan terus menguat pada Kuartal 2 2021, terutama konsumsi makanan dan minuman, informasi dan transportasi, pakaian, serta perlengkapan rumah tangga dan rekreasi. Selain itu, pemberian Insentif PPnBM DTP Kendaraan Bermotor berdampak signifikan terhadap penjualan dan produksi mobil, yang diharapkan dapat mendorong aktivitas konsumsi rumah tangga kelas menengah dan masyarakat secara menyeluruh. Selanjutnya, konsumsi listrik pada bulan Maret 2021 mengalami pembalikan arah dari negatif 4,0 persen (yoy) menjadi 3,3 persen (yoy). Perbaikan tersebut terjadi di semua sektor, khususnya sektor industri yang tumbuh di zona positif, yang semakin memperkuat adanya sinyal pemulihan ekonomi secara menyeluruh. Seiring dengan hal tersebut, kinerja PMI Manufaktur terus menguat, tercatat pada angka 53,2 di bulan Maret 2021, meningkat dari level 50,9 di Februari 2021. Realisasi tersebut menunjukkan ekspansi selama lima bulan berturut-turut dan merupakan yang tertinggi sejak April 2011.


Dari sisi perdagangan internasional, Neraca Perdagangan (NP) Indonesia melanjutkan tren positif dengan surplus USD1,6 miliar pada bulan Maret 2021, atau terakumulasi sebesar USD5,5 miliar sejak Januari-Maret 2021. Kinerja ekspor tumbuh dua digit, yaitu meningkat sebesar 30,5 persen (yoy) pada bulan Maret 2021 dan 17,1 persen (yoy) pada Kuartal 1, terutama didorong penguatan tren ekspor produk unggulan domestik akibat percepatan pemulihan ekonomi mitra dagang Indonesia dan perbaikan harga komoditas global. Hal senada juga terjadi pada pertumbuhan impor hingga Maret 2021 yang sangat kuat, khususnya permintaan atas produk bahan baku dan barang pendukung. Hal tersebut mengindikasikan peningkatan aktivitas produksi dalam negeri, dan akan terus didorong melalui kebijakan strategis termasuk melalui program PEN.


Peran Sentral APBN dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi


APBN sebagai instrumen countercyclical diperlukan dalam memanfaatkan momentum penguatan pemulihan ekonomi yang solid melalui akselerasi dan optimalisasi belanja serta pelaksanaan program PEN yang adaptif dan efektif. Kerja keras APBN melalui belanja negara juga didukung oleh kinerja program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Realisasi Belanja Negara sampai dengan 31 Maret 2021 mencapai Rp523,0 triliun atau 19,0 persen APBN 2021, tumbuh signifikan sebesar 15,6 persen (yoy). Realisasi belanja negara terdiri dari belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp350,1 triliun dan TKDD sebesar Rp173,0 triliun.


Realisasi belanja Pemerintah Pusat tumbuh tinggi terutama didukung oleh pertumbuhan Belanja K/L sebesar 41,2 persen (yoy) dan belanja non K/L yang tumbuh 9,9 persen (yoy). Realisasi belanja barang K/L tumbuh 81,6 persen dan telah memberikan manfaat berupa pengadaan 17,2 juta dosis vaksin, klaim biaya perawatan untuk 99 ribu pasien Covid-19, pemberian bantuan kepada 6,6 juta pelaku usaha mikro, dan pemberian BOS Kemenag kepada 3,4 juta siswa sekolah swasta, serta pemeliharaan infrastruktur jalan dan jaringan senilai Rp1,1 triliun. Selanjutnya, realisasi belanja modal tumbuh signifikan sebesar 186,2 persen, terutama untuk pembayaran proyek infrastruktur dasar lanjutan 2020 dan infrastruktur konektivitas, antara lain digunakan untuk penyelesaian pembangunan Bendungan sebesar 44,37 persen dari target 10 bendungan baru dan 43 lanjutan senilai Rp7,1 triliun, pembangunan jaringan irigasi sepanjang 600 km dengan progress sebesar 16,47 persen, rehabilitasi sepanjang 3.900 km dengan progress sebesar 18,34 persen, dan pembangunan jaringan irigasi tanah sepanjang 100 km dengan progress sebesar 11,52 persen, serta pembangunan jalur KA yang telah terealisasi sebesar 39,66 persen dari target 234,36 km’sp. Selain itu, belanja modal juga telah digunakan untuk pembangunan jalan sepanjang 43,87 km senilai Rp0,4 triliun dan pembangunan jembatan sepanjang 1,80 km senilai Rp0,1 triliun.


Selanjutnya, belanja bansos tumbuh 16,5 persen, seiring pelaksanaan bansos tunai dalam rangka PEN, serta peningkatan realisasi pada program KIP Kuliah dan Program Indonesia Pintar. Hasil nyata yang diberikan oleh belanja bansos  antara lain disalurkan melalui pemberian bantuan Iuran Jaminan Kesehatan bagi 96,5 juta masyarakat miskin, pemberian sembako kepada 15,93 juta KPM, penyaluran Bansos Tunai kepada 9,59 juta KPM, pemberian bantuan PKH kepada 9,7 juta KPM, pemberian KIP Kuliah kepada 782 ribu mahasiswa dan penyaluran PIP kepada 9,8 juta siswa. Realisasi belanja subsidi dan belanja lain-lain juga meningkat, utamanya untuk penyaluran berbagai jenis subsidi dan program pra-kerja. Realisasi belanja subsidi sampai dengan Maret 2021 tumbuh 14,3 persen (yoy), terutama untuk pemberian subsidi solar, minyak tanah, LPG, listrik, dan bunga perumahan bagi masyarakat, serta subsidi bunga KUR dan subsidi pupuk. Sedangkan belanja lain-lain tumbuh 1.942 persen (yoy) didorong pemberian bantuan iuran JKN kepada 17,96 juta masyarakat dan pelaksanaan program pra-kerja kepada 2,4 juta masyarakat. 


Sementara itu, penyaluran dana TKDD sampai dengan Kuartal 1 tahun 2021 terealisasi sebesar 21,7 persen dari total alokasi TKDD 2021. Peningkatan kinerja penyaluran TKDD terjadi untuk: (1) Peningkatan DBH akibat penyaluran Kurang Bayar tahun sebelumnya, (2) Penyaluran DAK masih cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya, dan (3) Pertumbuhan signifikan Dana Desa akibat adanya percepatan penyaluran. Kinerja  TKDD terus ditingkatkan dalam mendukung penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, hingga Triwulan I tahun 2021, anggaran dana desa telah dikeluarkan untuk pendanaan Covid-19 di 29.041 desa dan penyaluran BLT Desa kepada 895.883 KPM, DID telah disalurkan sebesar Rp123,4 miliar untuk bidang kesehatan, pendidikan, serta penguatan ekonomi dan perlinsos. Realisasi DAK Fisik juga telah digunakan untuk mendukung pemulihan ekonomi melalui pengutamaan metode padat karya dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,92 juta orang. Sementara DAK non Fisik telah disalurkan untuk dana BOS 44,13 juta siswa pada 215.000 sekolah, tunjangan profesi kepada 340.544 profesi guru, 26.343 guru daerah tertinggal/khusus,dan 23.436 guru yang belum bersertifikat, serta penyaluran insentif tenaga kesehatan kepada 14.033 nakes.


Pembiayaan Investasi untuk Mendukung Proyek Strategis Nasional


Alokasi pembiayaan investasi untuk TA 2021 dianggarkan sebesar Rp187,1 triliun, terdiri dari investasi kepada BUMN, BLU, LKI, dan kepada lembaga lainnya, serta investasi pemerintah, kewajiban penjaminan dan investasi lainnya. Sampai dengan 20 April 2021, realisasi pembiayaan investasi mencapai Rp9,86 triliun, antara lain telah digunakan untuk pembiayaan investasi kepada BLU Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) guna pencairan FLPP TA 2021 sebanyak 39,60 unit senilai Rp4,3 triliun dan investasi kepada BLU Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) guna pengadaan lahan atas beberpa proyek PSN sebesar Rp5,56 triliun.


Pelaksanaan dan Percepatan Program PEN untuk Menggerakkan Perekonomian


Kontribusi program PEN tetap dilanjutkan pada tahun 2021 dengan peningkatan alokasi hingga mencapai Rp699,43 triliun dengan realisasi yang telah mencapai Rp134,07 triliun hingga 16 April 2021, terdiri dari realisasi untuk kesehatan sebesar Rp18,59 triliun terutama untuk mendukung pelaksanaan 3T dan 3M, bantuan Iuran JKN, serta pemberian insentif perpajakan kesehatan, perlindungan sosial Rp47,92 triliun terutama untuk penyaluran berbagai program bansos untuk keluarga miskin, BLT Desa, Kartu Pra Kerja, dan bantuan kuota internet untuk peserta dan tenaga didik, serta realisasi untuk program prioritas sebesar Rp14,90 triliun, terutama digunakan untuk program padat karya, pariwisata, ketahanan pangan, ICT dan pengembangan kawasan strategis.


Di samping itu, dukungan UMKM dan korporasi telah terealisasi sebesar Rp37,71 triliun berupa Bantuan Pemerintah untuk Usaha Mikro (BPUM), IJP UMKM dan korporasi untuk KMK dijamin, serta penempatan dana pada perbankan. Terakhir, insentif dunia usaha telah tereallsasi sebesar Rp14,95 triliun terutama untuk insentif PPh21 DTP, PPh final UMKM DTP, Pembebasan PPh 22 Impor, Pengurangan Angsuran PPh 25, Pengembalian Pendahuluan PPN, dan Penurunan Tarif PPh Badan. 


Kebutuhan Belanja dan Investasi Dipenuhi Melalui Pendapatan dan Pembiayaan


Penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi melalui peningkatan kebutuhan Belanja dan Investasi yang menjadi prioritas didanai dari Pembiayaan, sementara penerimaan Pajak dan PNBP semakin dioptimalkan sejalan mulai meningkatnya aktivitas ekonomi. Sampai dengan akhir Maret 2021, pendapatan negara terealisasi sebesar Rp378,8 triliun atau 21,7 persen target APBN 2021, tumbuh 0,6 persen (yoy).


Penerimaan Pajak sampai dengan akhir Maret 2021 mencapai Rp228,21 triliun atau 18,6 persen target APBN 2021, tumbuh negatif 5,6 persen (yoy). Penerimaan neto mayoritas jenis pajak tumbuh positif pada Kuartal 1 2021, antara lain PPh OP, PPN Impor, sektor Pertambangan serta sektor Informasi dan Komunikasi. Sedangkan beberapa jenis pajak lainnya mengalami perlambatan akibat pemanfaatan insentif fiskal dan transaksi tak berulang. APBN telah bekerja keras memulihkan ekonomi dengan memberikan berbagai insentif pajak yang telah memberikan manfaat kepada 286.000 WP sepanjang Kuartal 1 2021.


Selanjutnya, penerimaan Kepabeanan dan Cukai sampai dengan Kuartal 1 2021 mencapai Rp62,3 triliun atau 28,9 persen target APBN 2021, dan tumbuh 62,7 persen (yoy). penerimaan Bea Masuk terealisasi sebesar Rp3,13 triliun, meningkat 7,43 persen (yoy) seiring peningkatan devisa bayar yang mencapai 23,9 persen, sedangkan penerimaan Bea Keluar tumbuh signifikan sebesar 534,85 persen (yoy) didorong peningkatan harga komoditi tembaga dan kelapa sawit. Sementara itu, penerimaan Cukai terealisasi sebesar Rp49,56 triliun atau tumbuh 70,10 persen (yoy), didorong penerimaan cukai Hasil Tembakau yang tumbuh 73,92 persen (yoy) akibat implementasi PMK 57 Tahun 2017.


Realisasi PNBP sampai bulan Maret 2021 mencapai Rp88,1 triliun atau 29,5 persen target APBN 2021. PNBP Lainnya dan Pendapatan BLU mengalami pertumbuhan positif, terutama dipengaruhi kenaikan pendapatan Penjualan Hasil Tambang dan Pendapatan premium obligasi, pendapatan Tahun Anggaran Yang Lalu (TAYL), pendapatan layanan pada Kemenkominfo, Kementerian ATR/BPN, dan Kemenag. Serta peningkatan pendapatan dana perkebunan kelapa sawit dibandingkan tahun lalu.


Pembiayaan APBN Berjalan On Track dengan Strategi yang Pruden dan Fleksibel


APBN 2021 diharapkan dapat tetap terjaga dengan target defisit anggaran sebesar 5,7 persen PDB, seiring berlanjutnya upaya penanganan Covid-19 dan PEN. Defisit yang lebih kecil dari tahun 2020 merupakan sinyal kebijakan ekspansif namun konsolidatif yang mulai dilakukan Pemerintah. Pembiayaan APBN berjalan on track, dengan tetap mewaspadai gejolak di pasar keuangan dan diantisipasi dengan strategi yang pruden dan fleksibel. Realisasi pembiayaan anggaran sampai dengan akhir Maret 2021 mencapai Rp323,0 triliun atau 32,1 persen target APBN 2021.


Realisasi pembiayaan utang berjalan sesuai strategi di tengah gejolak pasar, hingga Kuartal 1 2021 mencapai 27,9 persen dari target APBN. Pembiayaan utang menopang kebutuhan pembiayaan nonutang, termasuk investasi, serta untuk menutup defisit APBN seiring upaya akselerasi pemulihan ekonomi. Sampai dengan 14 April 2021, kontribusi BI berdasarkan SKB I mencapai Rp101,91 triliun, terdiri dari SUN sebesar Rp64,85 triliun dan SBSN sebesar Rp37,06 triliun. (sumber)