Kabar Nusantara – Banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang masih menyisakan luka bagi warga. Gelombang air yang datang tiba-tiba menyapu pertokoan, pasar, dan permukiman hingga sejauh beberapa kilometer dari bantaran sungai, meninggalkan lumpur tebal dan kerusakan di mana-mana.
Di Pasar Kuala Simpang, suasana muram tampak nyata. Lumpur pekat menutupi hampir tiap sisi bangunan, sementara sisa dagangan yang rusak bercampur dengan sampah yang terbawa arus. Para pedagang langsung bergerak, sebagian bahkan mulai membersihkan kios beberapa jam setelah air surut.
Nafsiah, salah seorang pedagang, terus menyapu endapan lumpur yang mulai mengeras di lantai kiosnya. Suaranya pelan saat ditanya soal kerugian. “Sekitar delapan puluh sampai seratus juta hilang,” ujarnya pelan, Rabu (14/1/2026). Ia masih berharap ada barang yang bisa diselamatkan untuk dijual kembali.
Banyak pedagang lainnya bernasib sama. Modal usaha yang bertahun-tahun dikumpulkan ludes dalam sekejap. Beberapa bahkan tak sanggup menghitung kerugian karena hampir seluruh barang dagangan rusak total. Nursiah, pedagang lain, hanya tersenyum pahit saat ditanya tentang kondisi lapaknya—senyum yang menerjemahkan kelelahan dan pasrah yang sulit diungkapkan dengan kata.
Tak jauh dari pasar, pertokoan di Jalan Cut Nyak Din juga luluh lantak. Air masuk dengan cepat dan memaksa aktivitas ekonomi berhenti seketika. Musa bin Idris, pedagang sembako, masih mengingat derasnya air yang menyambar kiosnya pada Kamis, 26 November 2025. “Dalam satu jam saja sudah tak bisa diselamatkan apa-apa,” tuturnya. Malam itu listrik padam, dan ia bersama keluarga harus mengungsi ke tempat lebih tinggi.
Selama hampir sebulan setelah banjir, pusat ekonomi di Kuala Simpang benar-benar lumpuh. Internet terputus, distribusi stok barang tersendat, dan transaksi nyaris tak berjalan. Kawasan yang biasanya ramai berubah menjadi zona pembersihan dan upaya pemulihan.
Namun perlahan, tanda-tanda bangkit mulai terlihat. Bantuan alat berat dan relawan berdatangan, membersihkan lumpur yang menggunung. Dump truck hilir mudik membawa endapan tanah, sementara warga bekerja bergiliran dari pagi hingga larut malam. Tetap saja, sebagian besar pedagang memilih membersihkan kios mereka sendiri karena banyak sudut pasar yang belum tersentuh bantuan lengkap.
Dalam dua hari terakhir, Musa sudah mencoba membuka kembali kiosnya meski belum penuh. “Setidaknya ada sedikit pemasukan,” katanya. Mirza, pedagang buah, mengatakan baru lima hari ia bisa berjualan lagi. “Yang buka baru separuh dari seluruh pedagang,” ujarnya.
Banyak kios masih terkunci rapat. Sebagian karena pemiliknya kehilangan modal untuk memulai kembali, sebagian lain lantaran lumpur masih menumpuk. Meski begitu, kebutuhan pokok kini mulai tersedia di pasar, dan pembeli sedikit demi sedikit kembali berdatangan.
Pedagang mengakui sejumlah bantuan pemerintah sudah mereka terima—baik berupa uang tunai maupun logistik. Tapi mereka berharap pemulihan pasar dapat dilakukan secara menyeluruh agar roda ekonomi benar-benar kembali pulih. Bagi mereka, pasar adalah penghidupan, sumber biaya sekolah anak, dan tempat mencari nafkah setiap hari.
“Kalau pasar kembali jalan, kami ikut hidup,” ujar seorang pedagang sambil terus menyiram lantai kiosnya.
Banjir besar itu meninggalkan banyak kerugian, namun juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan warga. Mereka memilih tidak menyerah, melainkan bangkit bersama—setapak demi setapak. Dari balik lumpur yang mulai mengering, denyut ekonomi Aceh Tamiang kembali mencoba berdiri.
