Iklan

,

Menguatnya Ekonomi Kreatif di Kota Malang: Peluang dan Tantangan di Era Digital

Kabar Nusantara
Minggu, 04 Januari 2026, 22.58 WIB Last Updated 2026-01-04T15:58:57Z

Penulis: Indah Vatika Sari - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM

Kabar Nusantara - Dalam beberapa tahun terakhir, Malang semakin menunjukkan wajah barunya sebagai kota kreatif. Di hampir setiap sudut kota, kita dapat menemukan kafe bertema, merek fesyen lokal, studio desain, rumah produksi konten digital, dan aliran festival seni dan budaya yang berkelanjutan. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya memperkaya kehidupan sosial masyarakat tetapi juga berfungsi sebagai penggerak ekonomi baru, menyediakan ruang yang cukup bagi kaum muda untuk berkreasi dan mencari nafkah. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Malang mulai dipandang sebagai pusat ekonomi kreatif yang menjanjikan di Jawa Timur.


Namun, di balik pertumbuhan ini, muncul pertanyaan penting: apakah ekosistem ekonomi kreatif Malang benar-benar siap untuk mendukung mimpi ambisius menjadi kota kreatif dunia? Di satu sisi, pemerintah secara resmi menargetkan Malang untuk menjadi Kota Kreatif Dunia pada tahun 2025. Di sisi lain, para pelaku industri kreatif menyatakan bahwa ekonomi kreatif Malang "tidak berjalan dengan baik." Kontradiksi ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi kreatif Malang memiliki peluang yang signifikan sekaligus tantangan serius di era digital.


Dari segi potensi, Malang memiliki aset yang sangat kuat. Menurut data Pemerintah Kota Malang, terdapat 17 subsektor ekonomi kreatif yang berkembang pesat, dengan sektor unggulan seperti kuliner, mode, kerajinan tangan, aplikasi, pengembangan game, dan seni pertunjukan. Kehadiran ratusan ribu mahasiswa dari berbagai universitas menjadi mesin utama untuk regenerasi ide, inovasi, dan tenaga kerja kreatif yang tak pernah berhenti. Pemerintah juga telah mendirikan Pusat Kreatif Malang (MCC) sebagai pusat kolaborasi, inkubasi bisnis, dan pengembangan bakat kreatif.


Namun, realitas di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi kebijakan ini. Dalam artikel Javasatu berjudul "Aktor Ekonomi Kreatif Mengatakan Kota Malang Tidak Baik-Baik Saja," beberapa pelaku industri menyuarakan kekhawatiran mereka. Mereka percaya bahwa banyak kebijakan masih bersifat simbolis dan gagal mengatasi kebutuhan nyata, seperti akses ke modal, kepastian regulasi, ruang bisnis yang terjangkau, dan pendampingan bisnis yang berkelanjutan.


Salah satu pelaku kreatif bahkan menekankan bahwa komunitas kreatif di Malang tumbuh dengan antusiasme yang besar, tetapi beroperasi tanpa ekosistem yang benar-benar kuat. Banyak UMKM kreatif memiliki produk berkualitas, tetapi kesulitan untuk maju karena dukungan struktural yang lemah dan jaringan pemasaran yang terbatas.


Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika memasuki ranah manajemen penerbitan. Di era digital, kreativitas tidak hanya berhenti pada produk. Cara Anda mengemas sebuah cerita, membangun identitas merek, mengelola konten media sosial, dan secara konsisten mendistribusikan pesan Anda sangat penting bagi keberhasilan industri kreatif. Sayangnya, banyak pelaku kreatif di Malang masih menggunakan media sosial tanpa perencanaan yangmatang. Konten sering kali dibuat secara sporadis, tidak berdasarkan riset audiens, dan dengan pemahaman minimal tentang algoritma platform digital.


Persaingan di industri kreatif saat ini tidak lagi bersifat lokal, tetapi nasional dan bahkan global. Produk kreatif dari Malang harus mampu bersaing dengan merek dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tanpa manajemen penerbitan profesional, potensi yang sangat besar ini akan kesulitan untuk berkembang secara optimal.


Lebih lanjut, masalah ruang publik kreatif juga merupakan tantangan. Banyak komunitas seni, musik, dan budaya mengeluh tentang kurangnya ruang ekspresi yang terjangkau dan berkelanjutan. Ruang kreatif, yang seharusnya menjadi jantung pertumbuhan ide, semakin terpinggirkan oleh tekanan komersialisasi kota.


Penguatan ekonomi kreatif di Kota Malang merupakan peluang strategis yang tidak boleh disia-siakan. Kota ini memiliki semua prasyarat utama: talenta muda, warisan budaya yang kaya, jaringan komunitas yang aktif, dan akses ke teknologi digital yang terus berkembang. Namun, peluang ini hanya akan benar-benar terwujud jika industri kreatif dikelola secara serius dan berkelanjutan.


Pemerintah perlu memperkuat perannya sebagai fasilitator ekosistem kreatif, bukan hanya sebagai penyelenggara program seremonial. Lebih jauh lagi, para pelaku industri kreatif harus mulai memandang manajemen penerbitan sebagai bagian inti dari proses kreatif, bukan hanya sebagai aksesori promosi.


Jika sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku industri dapat dipupuk secara efektif, Malang akan dikenal tidak hanya sebagai kota pendidikan atau pariwisata, tetapi juga sebagai pusat ekonomi kreatif dengan daya saing nasional dan global.


DAFTAR PUSTAKA

https://malangkota.go.id/2023/06/16/kota-malang-bersiap-menuju-kota-kreatif-dunia- 2025/#:~:text=Kita%20kan%20harus%20bikin%20perwal,semakin%20banyak%20lagi%2C

%E2%80%9D%20pungkasnya.

https://javasatu.com/berita/pelaku-ekonomi-kreatif-sebut-kota-malang-tidak-baik-baik- saja/#:~:text=Padahal%2C%20akhir%20April%20lalu%2C%20Kota,oleh%20kepentingan% 20sendiri%2C%E2%80%9D%20ujarnya.

https://youtu.be/q96w6bTZiaQ?si=ERfnaNf0V3sEzRzL

https://bacatoday.com/diskusi-ekonomi-kreatif-melihat-potensi-dan-tantangan-di-kota- malang/