Iklan

,

Membedah Bakat Siswa dengan Pemetaan DNA

Selasa, 27 Januari 2026, 08.54 WIB Last Updated 2026-01-27T01:54:39Z

Guru menjelaskan materi pelajaran seni budaya pada seorang siswa di Sekolah Rakyat (SR) jenjang SMA di Malang, Jawa Timur, Rabu (14/1/2026). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebutkan sebanyak 26 Sekolah Rakyat telah beroperasi di wilayahnya, menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah SR terbanyak secara nasional. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa.


Kabar Nusantara – Inovasi pemetaan bakat berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat yang digelar di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS), Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).


Peresmian tersebut diwarnai suasana penuh haru saat Presiden Prabowo Subianto menyaksikan tayangan “Manifesto Sekolah Rakyat” serta penampilan teatrikal siswa yang menggambarkan semangat, harapan, dan cita-cita pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Momen kebanggaan juga terlihat ketika para siswa menyerahkan novel karya mereka dan menampilkan pidato dalam berbagai bahasa asing.


Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam laporannya menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan terobosan strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas. Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah penerapan DNA Talent Mapping, sebuah tes pemetaan potensi siswa berbasis AI.


Teknologi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi bakat bawaan peserta didik sejak awal masuk sekolah, menggantikan pola seleksi akademik konvensional. “Hasil pemetaan talenta ini membantu kami memahami potensi anak sejak dini sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan minat dan kekuatan masing-masing,” ujar Saifullah Yusuf.


Data awal pemetaan menunjukkan hasil signifikan. Sebanyak 1.828 siswa teridentifikasi memiliki potensi di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM), dengan 1.204 di antaranya menunjukkan bakat kuat di bidang teknik. Selain itu, 39,6 persen siswa memiliki potensi di bidang sosial, 23 persen di bidang bahasa, serta 16 persen di bidang penegakan hukum.


Peta bakat tersebut menjadi dasar penyusunan kurikulum personal yang diterapkan di Sekolah Rakyat. Proses pembelajaran didukung oleh guru tersertifikasi, pembinaan karakter melalui wali asuh dan wali asrama, serta pemanfaatan Learning Management System (LMS) berbasis laptop. Penggunaan gawai dibatasi ketat, sementara konektivitas internet didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator telekomunikasi.


Sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan, Sekolah Rakyat yang tersebar di 166 lokasi menerapkan sistem asrama dengan pengawasan 24 jam. Setiap siswa juga memperoleh layanan kesehatan gratis serta pemenuhan gizi melalui makan seimbang tiga kali sehari dan dua kali makanan selingan.


Pengembangan Sekolah Rakyat turut melibatkan kolaborasi multisektor, termasuk pakar pengembangan sumber daya manusia Ary Ginanjar Agustian dan sejumlah institusi pendidikan swasta. Pemerintah menegaskan, sinergi berbagai pihak menjadi kunci dalam menciptakan pendidikan yang mampu mengubah masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu.


Berita ini dilansir dari InfoPublik.id

Sumber