Iklan

,

Penutupan LKS Dikmen Jatim 2026 oleh Gubernur Khofifah, Bangkitkan Semangat Juara Generasi Muda

Kabar Nusantara
Jumat, 10 April 2026, 14.23 WIB Last Updated 2026-04-10T07:23:29Z

 
_Resmikan Revitalisasi dan Rehabilitasi 50 SMA/SMK/SLB Negeri dan Swasta di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo_


Kabar Nusantara - SURABAYA, 10 APRIL 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menutup Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah (Dikmen) Tingkat Provinsi Jawa Timur ke-XXXIV Tahun 2026 di SMKN 12 Surabaya, Rabu (9/4) malam.


Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menekankan bahwa LKS merupakan instrumen penting dalam memetakan sekaligus menjaring kompetensi siswa lintas jenjang pendidikan.


“LKS ini penting untuk kita bisa melakukan seleksi dari kompetensi anak-anak siswa SMK negeri maupun swasta se-Jawa Timur. Kalau sebelumnya LKS ini hanya untuk SMK, tahun 2026 di Jawa Timur kita juga menyertakan SMA dan Madrasah Aliyah,” ujarnya.


Ia bahkan mendorong agar ke depan, pelibatan lintas jenjang ini juga dapat diadopsi di tingkat nasional.


“Saya mengusulkan kalau memang memungkinkan, pelibatan SMA dan Aliyah di tingkat nasional akan memberi ruang lebih luas bagi anak-anak untuk menunjukkan kompetensinya, apalagi bidang yang dilombakan cukup banyak, ada 56 bidang,” usulnya.


Menurut Khofifah, LKS tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang strategis untuk mengukur sekaligus membuktikan kualitas talenta vokasi Jawa Timur yang terus tumbuh dengan semangat juara.


“Saya melihat wajah-wajah masa depan yang siap melangkah lebih jauh, membawa Jawa Timur berkiprah tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global,” ujarnya.


Ia menegaskan, besarnya ekosistem pendidikan menengah dan pendidikan khusus di Jawa Timur merupakan kekuatan nyata yang harus terus dioptimalkan. Di dalamnya terdapat ribuan guru, puluhan ribu siswa, serta harapan besar yang terbangun dalam satu sistem pendidikan yang terus bergerak maju.


Prestasi Jawa Timur sebagai juara umum LKS nasional selama tiga tahun berturut-turut, lanjut Khofifah, menjadi bukti bahwa keberhasilan tersebut bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan.


“Jawa Timur sudah hattrick tiga tahun berturut-turut juara umum LKS. Tentu kita menargetkan tahun ini bisa juara umum lagi. Bahkan saya tadi menyampaikan, seyogyanya jika sudah hattrick, piala juara umum bisa menjadi milik siswa-siswi Jawa Timur,” tegasnya.


“Tiga tahun, tiga kali back-to-back. Ini bukan kebetulan, ini adalah sistem yang bekerja. Karena itu, visi ‘Jatim Cerdas’ harus dimaknai lebih luas, kecerdasan harus berdampak nyata,” lanjutnya.


Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan kesiapan lulusan SMK agar benar-benar siap masuk dunia kerja, tidak hanya dari sisi keterampilan teknis tetapi juga kematangan psikososial.


“Di SMK ini kita melakukan banyak improvement. Siswa-siswa sudah mulai magang dan mengenali dunia kerja sejak dini, bahkan sejak kelas 11 banyak yang sudah ‘diinden’. Artinya mereka sudah siap masuk dunia kerja saat lulus,” ujarnya.


“Oleh karena itu kita ingin terus meningkatkan skill mereka, sekaligus memastikan kesiapan tersebut diikuti dengan kematangan psiko-sosial,” imbuhnya.


Menurutnya, keterlibatan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (Dudika) menjadi faktor penentu dalam memastikan standar kompetensi lulusan.


“Standar dan kompetensi itu ditentukan oleh dunia usaha dan dunia industri. Karena itu kita sangat melibatkan Dudika dalam proses magang dan latihan kerja, agar saat lulus mereka benar-benar siap bekerja,” tegasnya.


Meski dihadapkan pada tantangan fiskal tahun 2026 dengan berkurangnya potensi pendapatan daerah sekitar Rp4,2 triliun, Khofifah menegaskan bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi penghalang untuk terus berprestasi.


“Justru dalam keterbatasan lahir kreativitas dan inovasi. Dan kalian sudah membuktikan bahwa prestasi bisa lahir tanpa batas,” ujarnya


Pada LKS Dikmen 2026, para siswa berkompetisi di 56 bidang lomba yang mencerminkan luas dan beragamnya kompetensi vokasi di Jawa Timur, sekaligus menunjukkan adanya ekosistem pembinaan talenta yang berkelanjutan dari daerah hingga tingkat provinsi.


Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi berkelanjutan, para pemenang mendapatkan uang pembinaan, yakni juara pertama sebesar Rp5 juta, juara kedua Rp3 juta, dan juara ketiga Rp2 juta. Tidak hanya itu, para juara pertama akan mengikuti training center (TC) sebagai tahap pembinaan lanjutan untuk menghadapi LKS Dikmen Tingkat Nasional.


Khofifah menegaskan, langkah ini penting agar prestasi tidak berhenti di tingkat provinsi, tetapi terus berlanjut hingga level nasional bahkan internasional.


Ia juga menyoroti peran strategis Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri dan Swasta sebagai penjalin sinergi di lapangan. Menurutnya, koordinasi yang solid melalui MKKS menjadi kunci dalam menyelaraskan pembinaan, kurikulum, serta pelaksanaan kompetisi lintas daerah.


Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa kekuatan utama pendidikan vokasi Jawa Timur terletak pada kolaborasi erat seluruh pemangku kepentingan.


“SMK tidak bisa berjalan sendiri. SMK membutuhkan panggung, dan panggung terbaik adalah dunia kerja nyata. LKS adalah arena latihan, sementara industri adalah panggung sesungguhnya,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga meresmikan secara simbolis program bantuan revitalisasi dan rehabilitasi sarana dan prasarana bagi 50 satuan pendidikan SMA/SMK/SLB Negeri dan Swasta di wilayah Surabaya dan Sidoarjo sebagai bagian dari komitmen peningkatan kualitas layanan pendidikan.


Selain itu, ia turut menyerahkan bantuan pendidikan kepada 20 siswa pra sejahtera masing-masing sebesar Rp1.000.000 serta bantuan sepatu sekolah, guna memastikan akses dan keberlanjutan pendidikan tetap terjaga.


Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada para guru, kepala sekolah, serta dunia usaha dan industri yang selama ini menjadi mitra strategis dalam memperkuat relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.


Di akhir, ia berpesan agar para siswa tidak berhenti pada capaian simbolik, melainkan terus mengembangkan kompetensi yang dimiliki.


“Piala dan medali hanyalah simbol. Prestasi sesungguhnya adalah ketika keterampilan mampu mengangkat derajat ekonomi keluarga dan memajukan daerah,” pungkasnya.