KH. Mohammad Idris Djamaluddin yang akrab disapa Kyai Idris Djamaluddin menegaskan bahwa dakwah adalah tanggung jawab setiap alumni, bukan hanya mereka yang telah merasa “sempurna” dalam beragama. Mengutip hadis Nabi SAW, ia mengingatkan tentang seseorang yang terjerumus ke dalam neraka bukan karena berdakwah, melainkan karena melakukan kebalikan dari apa yang ia serukan.
“Masuk neraka itu bukan karena tidak menjalankan seluruh isi dakwahnya, tapi karena melakukan yang sebaliknya. Maka jangan berhenti berdakwah,” tegasnya.
Ia juga mengutip sabda Nabi lainnya, “Perintahlah kebaikan meskipun belum mampu menjalankan semuanya, dan cegahlah kemungkaran meskipun belum mampu meninggalkan seluruhnya.” Pesan ini, menurutnya, menjadi landasan penting bagi alumni untuk tetap aktif menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Kyai Idris Djamaluddin menekankan pentingnya meningkatkan nilai kemanfaatan alumni. Ia melihat antusiasme yang tinggi dari para alumni, bahkan dari santri lintas pesantren, sebagai potensi besar yang harus dikelola secara terarah.
“Silaturahim seperti ini bukan hanya untuk mempererat hubungan, tetapi juga untuk memetakan bagaimana HIKAM bisa semakin bermanfaat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa guru memiliki posisi istimewa layaknya orang tua. “Orang tua itu ada tiga: yang melahirkan kita, yang melahirkan pasangan kita, dan guru kita,” ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, penting bagi HIKAM untuk melakukan pendataan alumni secara komprehensif—baik dari sisi akidah, dakwah, ekonomi, maupun keluarga—sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kesinambungan perjuangan.
Kyai Idris Djamaluddin juga mengutip pesan Romo KH. Moch Djamaluddin Ahmad, “Kalau pulang, mengajarkanlah.” Pesan ini menjadi landasan kuat bahwa setiap alumni memiliki kewajiban untuk berbagi ilmu, bahkan jika hanya kepada satu orang. “Abah tidak hanya menyuruh, tapi juga menyiapkan. Beliau membuat buku-buku sebagai bekal dakwah santri,” kenangnya.
Ia pun mengajak seluruh alumni untuk terus istiqamah berada di jalan _Ahlus Sunnah Wal Jamaah_, melanjutkan perjuangan para ulama dan masyayikh.
Sebelumnya, rangkaian kegiatan diawali dengan pra acara berupa lantunan sholawat dari Grup Al Banjari Pesantren Al-Hidayah yang menghidupkan suasana religius. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tahlil.
Dalam sambutan singkatnya, Ketua HIKAM Malang Raya, Ust. Abdul Mutholib, menyampaikan terima kasih atas kehadiran pengasuh dan pengurus pusat, serta menegaskan komitmen HIKAM Malang Raya untuk terus mengembangkan dakwah berbasis masjid dan musholla di tengah tantangan ideologi di Kota Malang.
Sementara itu, Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi (Mbah Bolong), menyampaikan bahwa meskipun HIKAM masih tergolong muda, namun telah memberikan banyak manfaat, terutama dalam menyambung silaturahim antara pengasuh dan alumni.
“HIKAM ini wadah untuk ngabdi, taubat, dan menyambung silaturahim. Kita harus bersyukur menjadi santri Abah Djamal,” ujarnya singkat.
Rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Syaiful Hidayat, Lc., M.H.I., dilanjutkan mushofahah dan foto bersama sebagai simbol saling memaafkan di momen Idul Fitri.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi alumni Al-Muhibbin di Malang Raya dan Pasuruan untuk memperkuat jejaring, meneguhkan komitmen dakwah, serta meningkatkan peran dan kemanfaatan di tengah masyarakat.

