Iklan

,

Indonesia Menuju Swasembada Jagung 2026, Pemerintah Pastikan Tak Perlu Impor

Rabu, 07 Januari 2026, 15.29 WIB Last Updated 2026-01-07T08:29:51Z

Ilustrasi Petani yang tengah memanen jagung. (Foto : Humas Badan Pangan Nasional)
 

Kabar Nusantara - Indonesia menutup tahun 2025 dengan capaian positif di sektor pangan, khususnya komoditas jagung. Berdasarkan pembaruan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang 2025 tercatat mencapai 16,11 juta ton. Angka tersebut mencerminkan penguatan produksi jagung nasional yang semakin solid dan berkelanjutan.


Sementara itu, kebutuhan konsumsi jagung pipilan kering kadar air 14 persen selama 2025 berada di kisaran 15,64 juta ton. Dengan produksi yang melampaui kebutuhan, Indonesia mencatat surplus sekitar 0,47 juta ton, menandakan pasokan jagung nasional berada dalam kondisi aman tanpa tekanan berarti.


Seperti dilansir dari InfoPublik.id, surplus produksi tersebut turut memperkuat stok akhir tahun. Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait, stok carry over dari 2025 ke 2026 diperkirakan mencapai 4,5 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional, dengan rata-rata kebutuhan bulanan sekitar 1,4 juta ton.


Stok carry over yang kuat menjadi indikator bahwa Indonesia telah mencapai swasembada jagung pada 2025. Sepanjang tahun, kebutuhan jagung—terutama untuk pakan ternak—dapat dipenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri tanpa ketergantungan impor.


Capaian tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menetapkan kebijakan jagung pada 2026. Pemerintah memastikan tidak akan melakukan impor jagung sepanjang tahun depan. “Dengan kondisi stok dan produksi seperti ini, pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga,” ujar Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta, Senin (5/1/2026).


Ketut menambahkan, produksi jagung nasional pada 2026 diproyeksikan meningkat hingga sekitar 18 juta ton. Tambahan produksi tersebut diharapkan mampu menopang kebutuhan dalam negeri sekaligus menjaga keseimbangan pasokan sepanjang tahun. Dengan proyeksi tersebut, stok jagung pada akhir 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 4,5 juta ton.


Selain memperkuat ketahanan pangan, peningkatan produksi juga membuka peluang ekspor. Pada 2026, ekspor jagung diproyeksikan mencapai sekitar 52,9 ribu ton, seiring meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi nasional tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri.


Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk memastikan hasil panen petani terserap dengan baik agar tidak terjadi penumpukan di lapangan dan harga tetap stabil. “Ini menunjukkan kerja keras petani membuahkan hasil. Produksi jagung nasional semakin solid, dan pemerintah akan terus memastikan hasil panen terserap dengan baik,” tegas Ketut.


Komitmen menuju swasembada jagung sejalan dengan arahan Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, yang menekankan keberpihakan kepada petani sebagai prinsip utama. Pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung melalui Keputusan Kepala Bapanas Nomor 216 Tahun 2025 sebagai bentuk perlindungan petani. Hingga pertengahan November 2025, realisasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung tercatat mencapai 51,2 ribu ton dan telah disalurkan kepada ribuan peternak ayam petelur di berbagai provinsi.


Berita ini dilansir dari InfoPublik.id

Sumber