
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Kabar Nusantara - SINGARAJA – Komunikasi empati menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi anak-anak lintas disabilitas, khususnya tunarungu dan tunagrahita. Perbedaan cara berkomunikasi kerap menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada konflik maupun perkelahian. Berangkat dari permasalahan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Pendidikan Ganesha melaksanakan program berjudul "Mengorkestrasi Komunikasi Empati Melalui Literasi Seni Pantomim Berbasis Tat Twam Asi Pada Lintas Disabilitas di Yayasan Corti Denpasar."
Program yang didanai dalam PKM Tahun 2026 ini dilaksanakan di Yayasan Corti Denpasar sebagai bentuk upaya meningkatkan kemampuan komunikasi empati anak lintas disabilitas melalui pendekatan seni pantomim yang dipadukan dengan nilai kearifan lokal Bali, yaitu Tat Twam Asi. Nilai tersebut mengajarkan bahwa setiap individu hendaknya mampu memahami dan merasakan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang saling menghargai dan harmonis.
Program pengabdian ini diketuai oleh Wayan Angga Budawan, bersama anggota I Made Ari Suantara, Ni Kadek Helen Martha Dewi, I Wayan Yoga Sugiantara, dan Agung Ayu Pradnya Paramita Dewi, serta didampingi oleh I Kadek Edi Yudiana, M.Pd. selaku dosen pendamping.
Pelaksanaan program melibatkan 12 anak yang terdiri atas delapan anak tunarungu dan empat anak tunagrahita. Kegiatan diawali dengan sosialisasi program, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan menggunakan metode Expressive Arts yaitu pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan seni sebagai media untuk mengekspresikan emosi, mengembangkan empati, dan memperkuat komunikasi nonverbal, terdiri atas tujuh tahapan, yaitu Emotional Awareness (mengenal dan mengekspresikan emosi), Movement Exploration (olah gerak dan bahasa tubuh), Orchestration (mengintegrasikan kemampuan komunikasi melalui pantomim), serta Transformative Reflection yang dilaksanakan pada setiap akhir tahapan sebagai media refleksi emosi anak. Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) sebagai media pembelajaran interaktif. Melalui teknologi tersebut, anak dapat mengamati gerakan, ekspresi, dan karakter pantomim secara lebih nyata sehingga memudahkan anak lintas disabilitas dalam memahami materi pembelajaran.
Melalui rangkaian pelatihan tersebut, anak belajar mengenali emosi diri dan orang lain, mengekspresikan perasaan melalui gerakan nonverbal, memahami makna bahasa tubuh, hingga menerapkan nilai Tat Twam Asi dalam interaksi sehari-hari. Pada tahap akhir, anak mempraktikkan kisah Jayaprana dan Layonsari dalam bentuk seni pantomim sebagai media pembelajaran komunikasi empati sekaligus penguatan nilai kepedulian, saling menghargai, dan penyelesaian konflik secara damai.
Program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang berkelanjutan bagi Yayasan Corti Denpasar dalam meningkatkan komunikasi empati anak lintas disabilitas. Selain memperkuat kemampuan komunikasi nonverbal, program ini juga berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai Tat Twam Asi, mengurangi potensi konflik antar anak, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, harmonis, dan saling menghargai melalui literasi seni pantomim.
