Iklan

,

SMKN 5 Surabaya Dorong Produk Sekolah Naik Kelas

Kabar Nusantara
Selasa, 08 September 2026, 21.59 WIB Last Updated 2026-09-08T14:59:08Z

 


Melalui sharing session dan workshop, siswa serta tim Student Company dan Teaching Factory mempelajari cara mengubah produk sekolah menjadi solusi yang dipahami dan dibeli pelanggan.


Kabar Nusantara - SURABAYA, 9 September 2026, SMK Negeri 5 Surabaya telah menyelenggarakan Sharing Session & Workshop bertajuk “Dari Produk Jadi Cuan” untuk meningkatkan penjualan produk Student Company dan Teaching Factory (TEFA), Rabu, 9 September 2026.


Kegiatan yang berlangsung di SMKN 5 Surabaya tersebut menghadirkan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani. Peserta terdiri atas siswa aktif dan kreatif, tim Student Company, tim TEFA, serta guru pendamping.


Kepala SMKN 5 Surabaya, Drs. Edy Prayoga, M.MTi., mengatakan bahwa produk sekolah perlu dikembangkan bukan hanya sebagai hasil pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana bagi siswa untuk memahami proses bisnis secara utuh.


“Siswa tidak cukup hanya mampu menghasilkan produk yang baik. Mereka juga perlu memahami pelanggan, membangun pasar, melayani konsumen, dan melakukan evaluasi agar produk sekolah memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Edy Prayoga.


Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri SMKN 5 Surabaya, Melinda Nurmawanti, S.Gr., menyampaikan bahwa kemampuan menjual menjadi penghubung penting antara kompetensi siswa dan kebutuhan masyarakat maupun dunia usaha.


“Student Company dan TEFA memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami proses bisnis secara nyata. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bahwa produk perlu diperkenalkan, ditawarkan, ditindaklanjuti, dan dikembangkan berdasarkan respons pasar,” kata Melinda.


Dalam paparannya, Ahmad Madani menegaskan bahwa produk berkualitas belum tentu otomatis menjadi produk yang laku. Produksi dan penjualan merupakan dua proses berbeda yang perlu dikelola secara seimbang.


“Produk dibuat oleh sekolah, tetapi pasar harus dicari dan penjualan harus dibangun. Tim tidak dapat hanya menunggu pelanggan datang setelah mengunggah foto produk di media sosial,” ujar Ahmad.


Peserta mempelajari cara mengenali masalah pelanggan, mengubah fitur menjadi manfaat, memanfaatkan pasar terdekat, membangun komunikasi penjualan, serta menjaga hubungan dengan pelanggan lama.


Ahmad juga mengajak peserta mengukur aktivitas yang mendahului omzet, seperti jumlah calon pelanggan yang ditemukan, orang yang dihubungi, penawaran yang disampaikan, tindak lanjut, pembelian ulang, dan rekomendasi.


Kegiatan tersebut memperkuat pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman. Produk sekolah tidak berhenti sebagai hasil praktik, tetapi menjadi media untuk melatih keberanian, empati pelanggan, disiplin penjualan, dan pengambilan keputusan berdasarkan data.


Tentang Ahmad Madani


Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKSN Digital Marketing 2026. Ia aktif sebagai trainer, konsultan, guru, dan narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id