Kabar Nusantara - Yogyakarta, 20 Mei 2026 – Sebuah proyek berbasis SDGs bertajuk "The Student Vitality Audit" yang dilakukan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) pada 15-19 Mei 2026 mengungkapkan temuan signifikan dari 50 responden: hanya 14% mahasiswa memenuhi kebutuhan tidur 7-9 jam per hari. Sisanya, 86%, hidup dalam defisit tidur kronis yang berpotensi mengganggu prestasi akademik dan kesejahteraan mental.
*_Perlu dicatat, audit ini bersifat terbatas pada 50 mahasiswa FEB UNY yang menjadi responden sukarela. Hasilnya tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh mahasiswa UNY, namun memberikan gambaran awal yang menarik untuk ditindaklanjuti. Instrumen kuesioner menggunakan skala Likert 1-5 untuk mengukur pola tidur, manajemen stamina, kesejahteraan fisik-mental, dan korelasi dengan performa akademik._
Defisit Tidur dan Dampaknya pada Konsentrasi
Data menunjukkan bahwa 68% responden (skor 4-5) sering mengantuk atau kehilangan fokus saat perkuliahan berlangsung. Kondisi ini secara langsung bertentangan dengan target SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) yang menuntut kesiapan kognitif optimal dalam proses belajar. Kurang tidur terbukti secara ilmiah mengganggu fungsi hipokampus, bagian otak yang bertanggung jawab membentuk memori jangka pendek dan panjang.
Seorang responden berinisial IM menulis: _"Banyaknya tugas menumpuk, ditambah kegiatan organisasi yang terkadang sampai malam."_ Hal serupa diungkapkan responden DA: _"Tugas yang menumpuk dan deadline yang membuat hati deg."_ Pola ini menunjukkan bahwa tekanan akademik dan organisasi menjadi pemicu utama berkurangnya waktu tidur.
Begadang demi Tugas: Budaya yang Mengkhawatirkan
Lebih lanjut, 82% mahasiswa mengaku terpaksa mengorbankan waktu tidur untuk menyelesaikan tugas atau belajar, terutama saat masa ujian. Angka ini mengindikasikan adanya budaya "bangga begadang" yang keliru di kalangan mahasiswa. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa belajar dengan kondisi tidur cukup lebih efektif daripada belajar semalaman dengan otak yang kelelahan.
Analisis mendalam disampaikan oleh responden berinisial FUT: _"Menurut saya, hambatan terbesar mahasiswa untuk mendapatkan tidur berkualitas adalah jadwal yang tidak teratur, tugas yang menumpuk, stres, dan terlalu sering menggunakan gadget sebelum tidur."_ Penggunaan gadget hingga larut malam memperparah siklus begadang karena paparan cahaya biru menghambat produksi melatonin, hormon pengatur tidur.
Kesejahteraan Mental dan Fisik yang Terancam
Dari sisi kesejahteraan mental (SDG 3), sebanyak 46% responden merasa cemas atau gelisah tanpa alasan jelas akhir-akhir ini. Sementara 42% mengeluhkan badan mudah lemas meskipun baru bangun tidur. Dua indikator ini adalah tanda awal burnout dan gangguan tidur kronis yang jika tidak ditangani dapat berujung pada depresi atau penurunan imunitas.
Responden berinisial RKA memberikan perspektif menarik: _"Begadang itu tidak masalah asal ada kompensasi sehat. Tapi membanggakan kebiasaan begadang? Itu tidak rasional dan justru merugikan diri sendiri. Minimal kalau mau begadang, harus ada kompensasi yang setara dan sehat ke tubuh, seperti makan lebih bergizi, rajin olahraga, atau mengurangi kafein."_ Pendapat ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kompensasi kesehatan mulai tumbuh, meskipun belum diiringi dengan aksi kolektif.
Kesadaran Tinggi namun Minim Aksi
Meski kondisi memperihatinkan, terdapat sisi optimis. Sebanyak 88% responden percaya bahwa pola tidur yang baik dapat mengurangi risiko stres dan burnout. Mereka juga sepakat bahwa ketika tidur cukup, konsentrasi kuliah meningkat secara signifikan. Ini artinya, pengetahuan tentang pentingnya tidur sudah dimiliki, tetapi hambatan eksternal seperti beban tugas dan manajemen waktu yang buruk menghalangi implementasi.
Pesan kuat disampaikan oleh responden SDL: _"Begadang bukan tanda mahasiswa keren atau produktif. Istirahat yang cukup justru bikin tubuh lebih sehat, fokus meningkat, dan tugas bisa dikerjakan lebih maksimal. Belajar itu penting, tapi kesehatan juga jangan dikorbankan."_ Pesan ini menjadi pengingat bahwa produktivitas sejati tidak diukur dari berapa sedikit tidur, melainkan dari kualitas output yang dihasilkan.
Audit ini menjadi panggilan darurat bagi institusi pendidikan dan mahasiswa itu sendiri. Diperlukan adanya perubahan sederhana yang dilakukan bersama secara berkelanjutan. Mulai dari pembiasaan manajemen waktu, pengurangan beban tugas yang tidak proporsional (misalnya dengan komunikasi aktif antara mahasiswa dan dosen), hingga kampanye bahwa tidur berkualitas adalah bagian dari strategi sukses akademik, bukan kemalasan. Kesehatan dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena tubuh yang bugar adalah investasi jangka panjang untuk pendidikan yang berkualitas.
---
Penulis: Kelompok 7
Dosen Pengampu : Ibu Dr Tristani S.Pd.,M.Pd.
Friska Wahyu Noviyanti : (25080130043)
Muhammad Thoha Alamsah : (25080130057)
Vivi Maulidya Rofifah : (25080130060)
Inayah Nur Faidah : (25080130064)
Tawfiqa Sari : (25080130204)
Muhammad Vavian Ghani : (25080130205)

