Iklan

,

Gubernur Khofifah Sambut Seniman Reyog Kyai Lodra, Tekankan Pengembangan Pasca Pengakuan UNESCO

Kabar Nusantara
Selasa, 14 April 2026, 16.07 WIB Last Updated 2026-04-14T09:07:51Z

 

Kabar Nusantara - SURABAYA, 14 APRIL 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, pasca ditetapkannya Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.


Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menerima seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi Surabaya, minggu lalu. Kunjungan Tim Reyog Kyai Lodra tersebut merupakan bagian dari persiapan mengikuti Festival Reyog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang akan digelar pada Juni mendatang.


Gubernur Khofifah menekankan bahwa Reyog tidak hanya dipandang sebagai atraksi seni pertunjukan, tetapi juga sebagai representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa.


“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat, tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana keberagaman suku serta agama dapat dirajut dalam harmoni budaya,” ujar Khofifah.


Lebih lanjut Gubernur Khofifah menekankan, kekuatan utama Reyog justru terletak pada nilai-nilai yang dikandungnya, yang mampu membentuk karakter sekaligus menjadi pijakan dalam membangun peradaban bangsa.


“Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reyog membawa nafas keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Di dalamnya ada substansi strategis untuk membangun karakter dan kebijakan bangsa,” imbuhnya.


Khofifah menegaskan, penguatan nilai filosofis tersebut menjadi semakin relevan setelah Reyog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024.


Menurutnya, pengakuan internasional tersebut harus diikuti dengan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem seni Reyog, termasuk aspek pelestarian, regenerasi, hingga keberlanjutan pertunjukan.


“Proses menuju pengakuan UNESCO ini sangat panjang dan tidak sederhana. Salah satu hal penting yang menjadi perhatian adalah aspek animal welfare, di mana kita harus memastikan bahwa dalam pertunjukan Reyog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi,” jelasnya.


Ia menambahkan, saat ini ekosistem Reyog terus berkembang seiring dengan meningkatnya pengakuan global terhadap Ponorogo sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO. Hal ini menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi Reyog sebagai identitas budaya yang mendunia.


Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa keberlanjutan menjadi kunci utama. Oleh karena itu, perlu upaya konsisten dalam mendorong regenerasi pelaku seni serta penyelenggaraan event budaya secara rutin.


“Harus sering ada pentas dan event, supaya mereka terus berlatih dan regerasinya berjalan maksimal. Awalnya mungkin ada yang ikut karena insentif, tapi ketika tumbuh rasa bangga, maka akan muncul dedikasi untuk melestarikan,” tuturnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan langkah kolaboratif dalam mendukung pengembangan Reyog, termasuk melibatkan institusi pendidikan dan komunitas seni.


“Kami menggandeng Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), SMK 12 Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, serta berbagai sanggar seni Reyog untuk memperkuat ekosistem, mulai dari pelatihan hingga pengembangan kreativitas,” jelasnya.


Selain itu, Disbudpar Jatim juga menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam upaya pelestarian satwa, khususnya burung merak Jawa.


“Kami sedang menjajaki kerja sama untuk pengembangbiakan burung merak Jawa sebagai bagian dari solusi keberlanjutan, mengingat keterbatasan material yang selama ini digunakan dalam pertunjukan Reyog,” tambahnya.


Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi.


“Pertemuan ini menjadi momentum bagi kami untuk mempresentasikan hasil karantina latihan selama dua bulan. Keikutsertaan kami di FRNP bukan sekadar kompetisi, tetapi bentuk kebanggaan sekaligus komitmen generasi muda dalam melestarikan Reyog,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, suasana berlangsung hangat melalui pemotongan tumpeng dan ramah tamah. Gubernur Khofifah juga memberikan dukungan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk mendukung persiapan tim menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.


Melalui langkah ini, Pemprov Jatim menegaskan komitmennya dalam menjaga Reyog tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang hidup, berkembang, dan berkelanjutan di kancah global.