Iklan

,

PMM UNTIRTA 2026 Olah Limbah Cangkang Kerang Menjadi Sabun Cair Eco-Friendly, Dorong Inovasi Produk Ramah Lingkungan di Kasemen

Kabar Nusantara
Senin, 06 Juli 2026, 17.59 WIB Last Updated 2026-07-06T10:59:53Z

Tim PMM UNTIRTA berfoto bersama warga usai pelatihan, memamerkan hasil akhir produk Sabun Cair Ecofriendly yang telah dikemas rapi dan siap dipasarkan.

Kabar Nusantara - Kawasan pesisir Banten, khususnya di wilayah Kasemen, memiliki potensi sumber daya laut yang melimpah. Aktivitas budidaya dan konsumsi kerang hijau menghasilkan limbah cangkang dalam jumlah besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan umumnya hanya menjadi sampah di lingkungan sekitar. Padahal, limbah cangkang kerang memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan yang bernilai guna dan bernilai ekonomi\


Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) yang tergabung dalam program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) 2026 menghadirkan inovasi melalui Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Eco-Friendly untuk Cuci Tangan Berbahan Dasar Tepung Cangkang Kerang sebagai Scrub Alami yang sukses dilaksanakan pada Sabtu (4/7/2026) di Perum Mina Bakti, Kecamatan Kasemen, Kota Serang


Sasaran utama program pemberdayaan ini adalah keluarga nelayan sero yang berada di Perum Mina Bakti. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan, terutama dari ibu-ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan dengan penuh semangat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan inovasi pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi produk sabun cair ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maupun dikembangkan sebagai peluang usaha rumah tangga.


Dalam pelatihan tersebut, tim mahasiswa langsung mendemonstrasikan proses pembuatan sabun cair sambil menjelaskan fungsi setiap bahan dan tahapan pembuatannya kepada peserta dengan dipimpin oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sekaligus Penanggung Jawab Program sabun cair, Ibu Afifah Nurazizatul Hasanah, S.Si., M.Si.. Demonstrasi diawali dengan penggunaan alat pelindung diri sebagai bentuk penerapan keselamatan kerja, kemudian dilanjutkan dengan proses pelarutan kalium hidroksida (KOH) menggunakan aquades. Setelah larutan terbentuk, tepung cangkang kerang dimasukkan dan dihomogenkan menggunakan hand blender hingga tercampur merata



Warga mempraktikkan langsung proses penghomogenan bahan sabun ecofriendly untuk menghasilkan tekstur sabun yang diinginkan.


Proses selanjutnya dilakukan dengan mencampurkan garam ke dalam Sodium Lauryl Ether Sulfate (SLES) hingga membentuk pasta, kemudian dicampurkan ke dalam larutan utama. Setelah itu ditambahkan sodium benzoat sebagai bahan pengawet, dilanjutkan dengan penambahan minyak kelapa sebagai bahan utama pembentuk sabun cair. Seluruh bahan dihomogenkan menggunakan hand blender hingga menghasilkan campuran yang seragam


Sebagai tahap akhir, tim mahasiswa menambahkan fragrance beraroma strawberry untuk memberikan aroma yang segar dan menarik pada sabun cair. Produk yang telah selesai dibuat kemudian dikemas ke dalam toples untuk didiamkan selama 24 jam sebelum siap digunakan. Melalui demonstrasi ini, peserta tidak hanya melihat proses pembuatan secara langsung, tetapi juga ikut mempraktikkan setiap tahapan sehingga lebih mudah memahami teknik pembuatannya.


Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sekaligus Penanggung Jawab Program sabun cair, Ibu Afifah Nurazizatul Hasanah, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa inovasi pemanfaatan limbah cangkang kerang ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.


"Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat tidak lagi memandang cangkang kerang sebagai limbah yang tidak memiliki nilai. Dengan sedikit inovasi, limbah tersebut dapat diolah menjadi sabun cair eco-friendly yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan berpotensi menjadi produk usaha rumah tangga yang memiliki nilai jual," ujar Ibu Afifah.


Lebih dari sekadar demonstrasi pembuatan produk, kegiatan pengabdian ini juga dievaluasi secara akademis melalui pengisian kuesioner Pre-Test dan Post-Test oleh seluruh peserta. Evaluasi tersebut bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan limbah cangkang kerang, proses pembuatan sabun cair, serta potensi pengembangan produk berbasis sumber daya lokal.


Antusiasme masyarakat terlihat hingga akhir kegiatan. Salah satu peserta, Ibu Junaria, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru karena sebelumnya masyarakat belum mengetahui bahwa limbah cangkang kerang dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bermanfaat.


"Awalnya kami tidak tahu kalau cangkang kerang bisa dimanfaatkan seperti ini. Setelah mengikuti pelatihan, kami jadi tahu cara mengolahnya menjadi sabun cair. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan dan ada pelatihan-pelatihan lainnya supaya ibu-ibu di sini semakin banyak mendapatkan ilmu dan keterampilan," ungkap Ibu Junaria.


Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung dengan baik dan mudah dipahami karena mahasiswa mendampingi peserta selama proses demonstrasi. Menurutnya, pelatihan ini tidak memiliki kekurangan yang berarti dan diharapkan dapat terus dilaksanakan dengan menghadirkan inovasi-inovasi baru berbahan dasar limbah hasil perikanan.


Tim PMM UNTIRTA 2026 mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas dukungan pendanaan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) pada program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), serta kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atas dukungan selama pelaksanaan program sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik.


Penulis : Retno Aulia Ningrum Purnamasari