Iklan

,

Pemerintah Prioritaskan Stabilitas Harga Pangan demi Menekan Inflasi

Minggu, 08 Februari 2026, 15.00 WIB Last Updated 2026-02-08T08:00:00Z

 

Ilustrasi suasana di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (2/9/2025).  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.

Kabar Nusantara — Pemerintah terus memprioritaskan pengendalian harga pangan sebagai strategi utama menjaga inflasi nasional tetap stabil dan tidak menggerus daya beli masyarakat. Hal tersebut ditegaskan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam upaya pengendalian inflasi yang dilakukan secara terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Tito Karnavian menyampaikan bahwa stabilitas inflasi yang terjaga hingga saat ini tidak lepas dari intensitas koordinasi yang dilakukan secara rutin. Pemerintah, kata dia, menggelar rapat pengendalian inflasi setiap pekan dengan melibatkan seluruh kementerian dan pemerintah daerah. “Inflasi bisa tetap terkendali karena koordinasi dilakukan secara konsisten. Setiap minggu kita rapat, dan semua daerah serta kementerian bergerak bersama,” ujar Tito melalui keterangan resmi usai Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Ia menjelaskan bahwa secara umum inflasi nasional masih berada dalam batas aman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Desember 2025 secara tahunan (year on year/y-o-y) tercatat sebesar 2,92 persen, masih di bawah ambang batas maksimal yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5 persen.


    Meski demikian, Tito mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menegaskan bahwa lonjakan inflasi akan berdampak paling besar pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. “Ketika harga beras, minyak goreng, telur, daging, atau ikan naik, masyarakat dengan penghasilan harian akan paling merasakan dampaknya,” ujarnya. Dalam paparannya, Mendagri juga mengungkapkan bahwa salah satu penyumbang inflasi tertinggi secara tahunan berasal dari harga emas perhiasan yang dipengaruhi dinamika pasar global. Kenaikan harga emas tersebut turut terjadi di Indonesia. “Harga emas perhiasan hampir mendekati Rp3 juta per gram. Ini dampak dari kondisi global,” kata Tito.


    Selain emas, tekanan inflasi juga datang dari kelompok pengeluaran makanan dan minuman, transportasi, serta perawatan pribadi. Peningkatan permintaan pada periode Natal dan Tahun Baru turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas. Tito menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada tren pergerakannya. Ia mencatat inflasi Desember 2025 mengalami kenaikan dibandingkan November 2025 yang tercatat sebesar 2,72 persen. “Trennya meningkat. Ini yang perlu kita cermati dengan serius,” ujarnya. Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah akan memusatkan pengendalian inflasi pada sektor yang dapat dikendalikan, terutama komoditas pangan. Menurut Tito, faktor global seperti harga emas tidak dapat diintervensi secara langsung, sehingga fokus diarahkan pada komponen inflasi yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. “Harga emas mengikuti pasar dunia dan sulit dibendung. Karena itu, pengendalian harus difokuskan pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok yang paling dirasakan masyarakat,” pungkasnya.


Sumber