Kabar Nusantara - Di tengah tantangan perubahan iklim global yang kian nyata, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menorehkan gagasan inovatif. Risma Yuniari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan, menawarkan konsep Blue-Green Infrastructure (BGI) sebagai solusi strategis untuk menghadapi ancaman banjir dan gelombang panas di kawasan perkotaan
Melalui risetnya yang berjudul "Optimalisasi Infrastruktur Hijau Perkotaan: Resiliensi Iklim dan Keadilan Spasial", Risma menyoroti bahwa pembangunan kota saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan infrastruktur beton konvensional. Menurutnya, tekanan ekologis akibat urbanisasi yang cepat menuntut pendekatan perencanaan yang lebih adaptif.
Penelitian Risma yang bertajuk "Optimalisasi Infrastruktur Hijau Perkotaan: Resiliensi Iklim dan Keadilan Spasial" menjadi antitesis terhadap pola pembangunan konvensional yang selama ini mendominasi wajah perkotaan Indonesia. Selama beberapa dekade, paradigma pembangunan kota sangat bergantung pada "infrastruktur abu-abu" (grey infrastructure), yaitu sistem drainase beton dan perkerasan jalan yang masif. Meskipun infrastruktur beton memiliki fungsi vital, ketergantungan berlebihan padanya telah memutus siklus hidrologi alami dan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Risma menekankan bahwa tekanan ekologis yang timbul akibat urbanisasi yang cepat dan tidak terkendali menuntut adanya pergeseran pendekatan perencanaan menuju metode yang jauh lebih adaptif terhadap dinamika alam.
Evolusi Konsep: Dari RTH Menuju BGI
Dalam kajian akademisnya, Risma menguraikan evolusi krusial dalam tata kelola ruang kota, di mana konsep Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Urban Green Infrastructure (UGI) perlu bertransformasi menjadi Blue-Green Infrastructure (BGI). Perbedaan mendasar dari konsep ini terletak pada integrasi sistemik; jika RTH konvensional seringkali hanya berfokus pada vegetasi semata, BGI menawarkan pendekatan holistik yang menyatukan manajemen air (blue) dengan elemen vegetasi (green) dalam satu kesatuan sistem infrastruktur.
Gagasan ini memiliki implikasi teknis yang mendalam karena BGI berfungsi sebagai solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) yang merekayasa lanskap kota agar mampu meniru siklus air alami. Sistem ini dirancang dengan mekanisme ganda: melakukan retensi air saat curah hujan tinggi untuk mitigasi banjir, sekaligus melepaskan uap air melalui proses evapotranspirasi untuk pendinginan alami saat cuaca panas. Mekanisme ini secara efektif mengatasi fenomena Pulau Panas Perkotaan atau Urban Heat Island (UHI), yaitu kondisi suhu pusat kota yang jauh lebih tinggi dibandingkan sekitarnya akibat pantulan panas gedung. Dengan memadukan kolam retensi, bioswales, dan tanaman peneduh, infrastruktur hibrida ini terbukti mampu menurunkan suhu lingkungan mikro dan menciptakan manajemen air hujan yang berkelanjutan.
Implementasi Lapangan: Studi Kasus Edu Mangrove Baros
Sebuah teori perencanaan kota hanya akan menjadi wacana tanpa bukti empiris di lapangan. Menyadari hal tersebut, Risma menerjemahkan gagasannya ke dalam aksi nyata melalui penanaman vegetasi di Desa Mandiri Peduli Mangrove, atau Edu Mangrove Baros. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada analisis spasial yang matang, mengingat posisinya yang strategis namun rentan terhadap abrasi dan pasang air laut.
Di kawasan ini, konsep BGI diterjemahkan menjadi benteng vegetasi pesisir. Penanaman mangrove di lokasi ini bukan sekadar aktivitas penghijauan, melainkan upaya membangun infrastruktur alami yang tangguh. Hal ini sejalan dengan aspek "Keadilan Lingkungan" dan "Keadilan Spasial" dalam risetnya, yang menyiratkan keberpihakan pada wilayah pinggiran yang seringkali paling terdampak oleh perubahan iklim. Masyarakat pesisir kerap menjadi korban pertama dari cuaca ekstrem dan kenaikan muka air laut, sehingga penguatan infrastruktur hijau di wilayah ini merupakan bentuk distribusi manfaat perlindungan ekologis secara lebih adil.
Dampak Ekologis: Konektivitas dan Penyerapan Karbon
Aksi penanaman ini juga merupakan manifestasi nyata dari teori ekologi mengenai fungsi vegetasi sebagai penyerap karbon (carbon sinks). Dalam skema mitigasi iklim, ekosistem mangrove dikenal memiliki kemampuan menyimpan "Blue Carbon" yang jauh lebih besar per satuan luas dibandingkan hutan hujan tropis. Secara teknis, akar-akar mangrove juga berfungsi sebagai penahan sedimen yang efektif mencegah erosi tanah akibat hantaman ombak, sebuah fungsi yang sulit digantikan oleh tanggul beton semata.
Lebih jauh, upaya di Edu Mangrove Baros mendukung konservasi biodiversitas dengan mengatasi fragmentasi habitat yang sering disebabkan oleh pembangunan kota. Melalui pendekatan BGI, penanaman ini menciptakan "konektivitas ekologis", menyediakan koridor aman bagi flora dan fauna untuk berpindah dan berkembang biak. Dengan demikian, sabuk hijau alami yang diperkuat di wilayah Baros tidak hanya melindungi manusia dari bencana, tetapi juga memulihkan jaring-jaring kehidupan ekosistem wilayah sekitarnya.