Suatu pagi yang cerah,
di meja makan sederhana sebuah rumah singgah, terjadi percakapan kecil namun
penuh makna antara seorang ayah dan anaknya.
Sang anak, sambil
menyendok bubur kacang hijau, bertanya polos, “Yah, kenapa sih kita harus baca
basmalah sebelum makan?”
Ayah tersenyum dan
menjawab dengan lembut, “Karena dengan basmalah, kita mengingat bahwa semua
rezeki ini datang dari Allah. Semua ini karena kasih sayang-Nya Allah. Kita
belajar bersyukur sejak suapan pertama.”
Anak itu
mengangguk pelan, lalu bertanya lagi dengan rasa ingin tahu yang tak kalah
besar, “Terus… apa yang bikin Ayah bahagia?”
Sang ayah menatap
anaknya dan berkata, “Ayah bahagia kalau kamu bahagia.”
Setelah diam
sejenak, sang ayah berbalik bertanya, “Sekarang, gantian ya. Apa yang membuatmu
bahagia?”
Sang anak tampak
berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kalau Ayah main sama aku, dengerin aku
cerita, dan kalau aku bisa bikin Ayah senyum.” Sesederhana itu sebenarnya, soal
waktu dan perhatian yang tulus. Namun pada praktiknya bagi orangtua yang
terlalu sibuk, waktu ini menjadi mahal. Terlebih, berangkat kerja anak masih
tertidur, pulang kerja anak sudah tidur.
Percakapan ringan
ini menggambarkan makna yang dalam tentang kebahagiaan dalam keluarga: bahwa
anak-anak yang bahagia beberapa indikatornya adalah lahir dari perhatian,
cinta, dan keterlibatan orang tua.
Menyambut
Hari Anak Nasional: Saatnya Mendengar Suara Anak
Setiap tanggal 23
Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional, sebagai momentum untuk
memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak-hak anak. Tahun 2025 ini, Hari Anak
Nasional (HAN) mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia
Emas 2045” dengan tagline inspiratif “Anak Indonesia Bersaudara.”
Tema ini menegaskan pentingnya menciptakan generasi anak yang sehat, cerdas,
tangguh, dan berdaya dalam rangka menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia di
tahun 2045 mendatang. Hal ini mengingatkan kita bahwa anak bukan hanya objek
perlindungan, tetapi subjek yang perlu didengar, dihargai, dan dibimbing dengan
penuh cinta.
Kebahagiaan anak
tidak selalu datang dari hal-hal besar. Terkadang, dari percakapan singkat di
meja makan, pelukan hangat sebelum tidur, hingga telinga yang mendengarkan
tanpa menghakimi, semuanya adalah bentuk kasih sayang yang menumbuhkan rasa
aman dan bahagia pada anak.
Peran
Orang Tua dan Lingkungan
Orang tua memegang
peran penting dalam membentuk masa depan anak. Anak-anak yang tumbuh dalam
lingkungan yang suportif, hangat, dan penuh nilai akan menjadi pribadi yang
kuat, percaya diri, dan peduli terhadap sesama. Oleh karena itu, penting untuk
menjadikan setiap hari sebagai Hari Anak, dengan menghadirkan
kebahagiaan dalam bentuk yang paling sederhana: perhatian, kehadiran, dan cinta
yang tulus. Karena sejatinya, ketika anak-anak bahagia, orang tua pun turut
bahagia. Dan ketika keluarga bahagia, masa depan bangsa pun bersinar.
Bahagia menjadi
salah satu nilai-nilai dasar bagi anak dari beberapa nilai dasar lainnya.
Setidaknya ada 6 (enam) nilai dasar yang penting bagi anak, yaitu: Berakhlak Mulia, Bahagia, Peduli, Berani,
Cerdas, dan Solidaritas.
Kurikulum
Cinta dan Tagline “Anak Indonesia Bersaudara”
Tagline “Anak Indonesia Bersaudara” menanamkan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan solidaritas di antara anak-anak dari berbagai latar belakang suku, agama, maupun budaya.
Sejalan dengan Kurikulum
Cinta yang digagas oleh Kementerian Agama yang bukan sekadar konsep abstrak,
melainkan pendekatan pendidikan holistik yang bertujuan untuk menanamkan
nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan harmoni. Dalam konteks masyarakat
Indonesia yang multikultural dan beragam, konsep ini sangat relevan. Pendidikan
agama yang seringkali hanya menekankan aspek normatif dan ritual diharapkan
dapat bergeser menjadi pembelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan.
Peringatan Hari
Anak Nasional (HAN) bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi seruan bagi seluruh
elemen bangsa yang terikat dalam trilogi atau tripusat pendidikan anak, yaitu:
Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Dalam hal ini pemerintah, masyarakat, dunia
usaha, media, hingga keluarga, harus mengambil peran penting untuk bersama-sama
mewujudkan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Seluruh elemen
terkait harus bersinergi untuk anak, siapa melakukan apa? Hari Anak Nasional
dipandang sebagai sebuah barometer sosial dan politik yang mengukur tingkat
komitmen dan keseriusan berbagai pihak dalam menjamin setiap anak dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal, bebas dari kekerasan, eksploitasi, dan
diskriminasi, serta mampu memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya dengan
lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar untuk pengembangan kecerdasan
naturalistiknya.
Isu
Penting Peringatan ke-41 Hari Anak
Nasional (HAN) 2025
Terdapat 5 (lima) isu penting yang menjadi perhatian dalam peringatan ke-41 HAN 2025 sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar berikut:
2. Pendidikan Inklusif untuk Semua
3. Anak Cerdas Digital
4. Stop Perkawinan Anak
Makna
dan Tujuan Hari Anak Nasional
Hari Anak Nasional
yang diperingati setiap 23 Juli memiliki tujuan yang baik, diantaranya: Meningkatkan
kesadaran publik tentang pentingnya menjaga dan melindungi anak-anak; Mendorong
pemenuhan hak-hak anak serta menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan
mendukung tumbuh kembang mereka; Mengapresiasi kontribusi anak-anak dalam
kehidupan bermasyarakat serta mendorong peran aktif mereka dalam proses
pembangunan.
Hari Anak Nasional
menjadi momentum pengingat bahwa anak-anak adalah pondasi masa depan bangsa.
Menjaga kesejahteraan dan melindungi mereka adalah investasi penting untuk
menjamin Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Anak adalah harta paling
berharga yang perlu dijaga, dibimbing, dan diberdayakan.
Prinsip Peringatan
ke-41 Hari Anak Nasional tahun 2025 yang bersifat desentralisasi, Apresiatif,
Partisipatif dan Kolaboratif, serta Berdampak: memberikan kesempatan dan
keleluasaan kepada daerah, komunitas, lembaga pendidikan, masyarakat, dan
keluarga dalam pengembangan kreativitas anak. Selain untuk menghargai prestasi
dan kreativitas anak, juga untuk kiprah kalangan pendidik dan pemerhati anak
serta tokoh masyarakat yang sangat peduli terhadap pemenuhan hak dan
perlindungan anak.
Berdampak menjadi
diksi dan variabel penting dalam partisipatif-kolaboratif dan tanggungjawab
sebagai orangtua dan penyelenggara pendidikan memberikan dampak nyata terhadap
tumbuh kembang anak, identitas budaya dan kekuatan komunitas peduli anak
berbasis cinta dan kasih sayang.
Ajaran
cinta bukan sekedar teori, tapi praktik yang harus dicontohkan oleh para orangtua
dan pendidik, yang dibiasakan dalam lingkup pendidikan dan keluarga.
Bukankah kita ingin menjadi Orangtua dan Pendidik yang baik penuh cinta dan kasih sayang bagi anak-anak kita?
Diramu
dari Sumber Bacaan:
- Pedoman
Peringatan Hari Anak Nasional ke-41 Tahun 2025. Anak Hebat, Indonesia Kuat
Menuju Indonesia Emas 2045: Anak Indonesia Bersaudara. Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen
PPPA RI).
- Panduan
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah. Direktorat KSKK
Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia 2025.
- Arga
Sumantri. 2025. https://www.metrotvnews.com/read/kj2CEAdG-kemenag-uji-publik-kurikulum-berbasis-cinta-untuk-madrasah
- Musthofa
Asrori. 2025. https://kemenag.go.id/nasional/kemenag-sebut-kurikulum-berbasis-cinta-upaya-membumikan-nilai-kasih-sayang-melalui-pendidikan-xoHme
- Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi
Undang-Undang.
- Undang-undang
Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual,
- Peraturan
Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021 tentang Perlindungan Khusus Anak
- Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem
Elektronik dalam Pelindungan Anak.

