Iklan

,

Dari Penolakan Tahun 2002 hingga Kembali Mengajar, Kisah Ahmad Madani dan Almarhum KH Jamhari Abdul Jalal

Kabar Nusantara
Selasa, 27 Oktober 2026, 14.27 WIB Last Updated 2026-10-27T07:27:19Z

 


Kabar Nusantara - 27 Oktober 2026 — Tidak semua guru memberikan pelajaran melalui ruang kelas. Ada pula yang meninggalkan pesan melalui satu kalimat sederhana, tetapi terus memengaruhi perjalanan hidup seseorang selama puluhan tahun.


Pengalaman itulah yang dirasakan Ahmad Madani saat mengenang almarhum KH Jamhari Abdul Jalal, Lc., Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, yang wafat pada Selasa, 27 Oktober 2026.


Bagi Madani, kepergian almarhum menghidupkan kembali kenangan menjelang akhir tahun 2002, ketika dirinya baru menyelesaikan pendidikan dan pengabdian di Pondok Modern Darussalam Gontor.


Saat itu, Madani mendatangi Darunnajah 2 Cipining dengan harapan menjadi tenaga pengajar. Ia merasa bahwa melanjutkan pengabdian di pesantren merupakan pilihan yang tepat setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan sebagai santri.


Namun, KH Jamhari memberikan jawaban yang tidak sesuai harapannya.


“Antum lebih baik di luar daripada di dalam pondok.”


Madani mengaku sulit menerima kalimat tersebut. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta dari Parung Panjang menuju Tanah Abang, ia membawa perasaan kecewa sekaligus pertanyaan mengenai alasan dirinya tidak diterima menjadi guru.


Namun, perjalanan kereta itu justru menjadi awal perubahan cara pandangnya. Madani mulai mencoba memahami kemungkinan bahwa KH Jamhari sedang mendorongnya mencari pengalaman di luar lingkungan pesantren.


“Semakin saya renungkan, semakin saya mencoba menerima kalimat beliau sebagai doa. Mungkin saat itu saya tidak melihat kemampuan yang ada pada diri saya sendiri, sementara beliau justru mendorong saya untuk berani mencoba kehidupan yang lebih luas,” ungkapnya.


Belajar Kehidupan melalui Dunia Sales


Setelah tidak menjadi guru di Darunnajah, Madani menjalani berbagai pengalaman di dunia profesional, terutama sebagai tenaga penjualan.


Dunia sales mempertemukannya dengan banyak karakter manusia, tantangan, kegagalan, dan penolakan. Ia belajar membangun komunikasi, memperjuangkan kepercayaan pelanggan, bekerja dengan target, serta menerima kenyataan bahwa tidak semua usaha langsung menghasilkan keberhasilan.


Menariknya, penolakan kembali menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Kali ini, Madani memandangnya sebagai bagian dari proses pembelajaran.


“Ketika menjadi sales, saya berkali-kali menghadapi penolakan. Dari situ saya justru belajar bahwa ditolak tidak selalu berarti tidak mampu. Kadang kita hanya harus menemukan jalan, cara, dan kesempatan yang berbeda,” katanya.


Pengalaman profesional tersebut akhirnya membawanya aktif di bidang pelatihan penjualan, pemasaran, serta pengembangan kompetensi siswa dan guru sekolah kejuruan. Ia pun kerap membagikan pengetahuan mengenai kesiapan kerja, komunikasi, dan keterampilan profesional kepada generasi muda.


Kembali ke Tempat yang Pernah Menolaknya


Salah satu bagian paling bermakna dari perjalanan Madani adalah kesempatan untuk kembali ke Darunnajah 2 Cipining.


Selama lima tahun terakhir, ia rutin memberikan pembekalan kepada santri akhir menjelang kegiatan Rihlah Iqtishodiyah. Madani datang dengan pengalaman dari dunia industri yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi para santri sebelum memasuki kehidupan yang lebih luas.


Peristiwa tersebut menjadi pengalaman emosional baginya. Tempat yang dahulu tidak menerimanya sebagai guru tetap, kini kembali membukakan ruang untuknya berbagi ilmu.


“Saya dulu ingin menjadi guru di Cipining. Keinginan itu memang tidak terwujud sebagaimana rencana awal saya. Tetapi kemudian Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali, bukan hanya membawa ilmu yang saya pelajari di pesantren, melainkan juga pengalaman hidup dari luar pesantren,” jelasnya.


Menurut Madani, peristiwa itu mengajarkannya bahwa pengabdian dapat berlangsung melalui banyak profesi dan kesempatan. Seorang alumni pesantren tetap dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan meskipun memilih jalur karier di luar lembaga pendidikan.


Keyakinan yang Baru Dipahami Setelah Puluhan Tahun


Kabar wafatnya KH Jamhari membuat Madani semakin merenungkan arti kepercayaan dan keberanian yang ditanamkan seorang pendidik kepada generasi muda.


Ia juga mengingat pesan almarhum bahwa masa depan seseorang sangat ditentukan oleh tindakan yang dilakukan pada masa sekarang. Prinsip itu selaras dengan pengalaman Madani yang terus berupaya mengubah kekecewaan menjadi dorongan untuk belajar.


“Beliau adalah sosok yang saya kenang sebagai orang yang meyakini saya mampu, justru ketika saya sendiri belum yakin dengan kemampuan saya. Sebuah kalimat yang dulu terasa seperti penolakan, hari ini menjadi salah satu pesan yang paling saya syukuri,” ujarnya.


Madani menyampaikan duka cita mendalam dan berharap keluarga besar Darunnajah diberikan ketabahan atas kepergian almarhum.


“Terima kasih, Kiai. Dulu saya pulang dari Cipining membawa kekecewaan. Sekarang, setiap kali pulang setelah berbagi dengan para santri, saya membawa rasa syukur. Semoga Allah menerima seluruh pengabdian antum dan menjadikannya amal jariah yang tidak terputus,” tutup Madani.