Iklan

,

Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan Bekali Guru dan Siswa SMK Hadapi Era Retail 5.0 Melalui Workshop Artificial Intelligence

Kabar Nusantara
Rabu, 22 Juli 2026, 21.15 WIB Last Updated 2026-07-22T14:21:20Z

 


Kabar Nusantara - Pacitan, 21 Juli 2026 – Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja, berinteraksi dengan merek, hingga mengambil keputusan pembelian. Menjawab tantangan tersebut, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan menyelenggarakan Workshop "Retail 5.0: AI Tidak Menggantikan Manusia, tetapi Menggantikan Cara Lama Berjualan" di SMKN 2 Pacitan, Selasa (21/7/2026).


Workshop yang diikuti oleh guru dan siswa Program Keahlian Pemasaran Konsentrasi Bisnis Retail ini menghadirkan Ahmad Madani, Praktisi Pemasaran & Vokasi sekaligus Juri LKS Dikmen Pemasaran Digital Tingkat Nasional, sebagai narasumber.


Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi guru dan peserta didik dalam menghadapi perubahan industri retail yang semakin dipengaruhi oleh Artificial Intelligence (AI), digital commerce, dan perubahan perilaku konsumen.


Retail Berubah, Apakah Pendidikan Sudah Siap?


Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam workshop yang berlangsung interaktif sepanjang kegiatan.


Dalam pemaparannya, Ahmad Madani menjelaskan bahwa dunia retail saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai toko, produk, dan transaksi. Perubahan terbesar justru terjadi pada perilaku pelanggan.

Menurutnya, konsumen modern mencari informasi melalui media sosial, membaca ulasan pelanggan, membandingkan harga di marketplace, hingga memanfaatkan AI sebelum memutuskan membeli suatu produk.


"Retail tidak sedang mengalami kemunduran. Retail sedang berevolusi. Yang berubah bukan kebutuhan manusia, melainkan cara pelanggan mengambil keputusan dan cara perusahaan memberikan pengalaman kepada pelanggannya," ujar Ahmad Madani.


AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghilangkan Peran Manusia


Masih banyak masyarakat yang memandang Artificial Intelligence sebagai ancaman terhadap dunia kerja.

Namun Ahmad Madani menegaskan bahwa AI justru membuka peluang baru bagi dunia pendidikan maupun dunia usaha apabila dimanfaatkan secara tepat.


"AI tidak menggantikan manusia. AI menggantikan cara lama bekerja dan cara lama berjualan. Mereka yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki produktivitas lebih tinggi, sementara kemampuan seperti empati, komunikasi, kreativitas, dan kepemimpinan tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat digantikan teknologi," jelasnya.


Dalam workshop tersebut peserta diperkenalkan dengan berbagai penerapan AI dalam aktivitas retail, mulai dari pembuatan konten pemasaran, analisis perilaku pelanggan, penyusunan materi promosi, hingga pemanfaatan AI sebagai pendukung proses pembelajaran.


Dari Rak Toko Menuju Layar Ponsel


Salah satu studi kasus yang disampaikan dalam workshop menggambarkan bagaimana perubahan perilaku pelanggan telah mengubah strategi bisnis retail.

Ahmad Madani menceritakan pengalamannya berdialog dengan seorang pemilik toko yang mengeluhkan semakin sepinya pengunjung.


Setelah dilakukan diskusi, diketahui bahwa toko tersebut belum memanfaatkan media sosial, marketplace, maupun platform digital sebagai media pemasaran.

Menurut Ahmad Madani, kondisi tersebut bukan berarti pelanggan telah hilang.


"Yang berubah bukan pelanggannya, tetapi tempat pelanggan berbelanja. Hari ini pelanggan berada di TikTok, Instagram, marketplace, dan berbagai platform digital lainnya. Karena itu bisnis juga harus hadir di tempat yang sama," katanya.


Melalui contoh tersebut, peserta diajak memahami konsep Omnichannel Retail, yaitu strategi menghadirkan pengalaman pelanggan yang terintegrasi melalui berbagai saluran komunikasi dan penjualan.


Pendidikan Vokasi Harus Adaptif terhadap Perubahan


Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan, Dr. Sasmito Pribadi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa perubahan industri harus direspons oleh dunia pendidikan melalui pembelajaran yang adaptif dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurutnya, pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana.


"Pendidikan vokasi harus terus bergerak mengikuti perkembangan dunia usaha dan dunia industri. Artificial Intelligence bukan ancaman bagi pendidikan, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru perlu terus meningkatkan kompetensinya agar mampu menghadirkan proses belajar yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini maupun masa depan," ujar Dr. Sasmito Pribadi.


Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dunia usaha, dunia industri, dan praktisi merupakan kunci dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang berkualitas.

"Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap guru memperoleh perspektif baru dalam proses pembelajaran, sementara siswa mendapatkan gambaran nyata mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri sehingga mereka lebih siap menghadapi dunia kerja setelah lulus," tambahnya.


Menyiapkan Talenta Retail Masa Depan


Selain membahas perkembangan teknologi, workshop juga memperkenalkan berbagai kompetensi yang kini menjadi kebutuhan industri retail.

Peserta memperoleh wawasan mengenai Customer Experience, Digital Selling, Live Commerce, Omnichannel Retail, pemanfaatan Artificial Intelligence, hingga pentingnya kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian masalah.


Menurut Ahmad Madani, kompetensi tersebut akan menjadi pembeda bagi lulusan SMK dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

"Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan yang mampu menjalankan pekerjaan. Mereka mencari talenta yang mampu belajar, beradaptasi, memanfaatkan teknologi, dan memberikan solusi bagi pelanggan," ungkapnya.


Komitmen Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan


Penyelenggaraan workshop ini merupakan bagian dari komitmen Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan dalam memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui peningkatan kapasitas guru dan peserta didik.

Melalui kolaborasi dengan praktisi industri, sekolah diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun lulusan SMK-SMA yang siap bekerja, siap berwirausaha, dan siap menghadapi transformasi industri berbasis teknologi.


Penutup

Perubahan dunia retail tidak dapat dihindari. Artificial Intelligence, digital commerce, dan perkembangan teknologi akan terus memengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnis serta cara pelanggan mengambil keputusan.

Namun demikian, keberhasilan di era Retail 5.0 tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam membangun hubungan, memberikan pelayanan, berpikir kreatif, dan terus belajar.

Melalui Workshop Retail 5.0: AI Tidak Menggantikan Manusia, tetapi Menggantikan Cara Lama Berjualan, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Pacitan menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perubahan zaman dan mampu melahirkan talenta-talenta unggul yang siap menjadi bagian dari masa depan industri retail Indonesia.