Artikel Opini Siti Afrima Lisyabella Jumrin (202310040311373)
Kabar Nusantara - Belakangan ini, industri kreatif kita bukan lagi sekadar "pemanis" ekonomi. Data terbaru menunjukkan sektor ini diproyeksikan menyerap hingga 27,4 juta tenaga kerja pada tahun 2025. Namun, di balik angka yang mentereng tersebut, ada kecemasan besar yang membayangi para pelakunya: apakah kreativitas manusia masih punya harga di hadapan kecerdasan buatan (AI)? Paradoks Mesin dan Otentisitas Kehadiran AI generatif memang memudahkan produksi konten, tapi ia membawa ancaman nyata. Secara global, sekitar 300 juta pekerjaan terancam otomatisasi. Di Indonesia, keresahan ini sudah mulai meletup, salah satunya lewat gerakan #TolakGambarAI yang disuarakan seniman lokal sebagai bentuk perlawanan terhadap penggunaan ilustrasi mesin yang dianggap merugikan perjuangan kreator.
Kita harus jujur: AI bisa membuat gambar atau teks dalam hitungan detik, tapi ia tidak punya "rasa" atau kedalaman emosional. Inilah yang menjadi benteng terakhir kita. Di era sekarang, nilai jual seorang kreator bukan lagi pada seberapa cepat ia berproduksi, melainkan pada seberapa kuat narasi dan otentisitas yang ia tawarkan. Konsumen saat ini justru lebih menghargai konten yang terasa tulus dan spontan ketimbang hasil pabrikan algoritma yang kaku. Ide Sebagai "Aset" Nyata Satu terobosan besar yang sering luput dari perhatian adalah mulai diakuinya Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai jaminan utang ke bank melalui PP Nomor 24 Tahun 2022.7 Ini adalah revolusi finansial. Dulu, jika ingin meminjam modal, kita butuh sertifikat tanah. Sekarang, sebuah lagu, desain gim, atau paten yang sudah terdaftar secara resmi bisa menjadi agunan.
Namun, implementasi di lapangan masih menantang. Perbankan kita masih belajar cara menilai harga sebuah "ide" yang nilainya bisa naik-turun dengan cepat.Tanpa ekosistem hukum yang kuat, terutama amandemen UU Hak Cipta yang bisa melindungi karya dari pencurian data oleh AI, potensi besar ini bisa menguap begitu saja. Belajar dari "Jumbo" dan Gim Lokal Optimisme tetap ada. Tengoklah keberhasilan film animasi lokal Jumbo yang berhasil menembus angka 8 juta penonton dan menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa.Atau keberhasilan gim A Space for the Unbound karya Mojiken Studio yang menyabet gelar "Game of the Year" di ajang nasional dan diakui dunia karena mengangkat tema kehidupan lokal tahun 90-an. Dua contoh tersebut membuktikan satu hal: dunia haus akan cerita yang "sangat Indonesia". Kita tidak perlu meniru gaya luar negeri. Kedalaman budaya nusantara, jika dikemasdengan standar global, adalah komoditas ekspor yang tak ternilai.
Industri kreatif kita di era sekarang bukan lagi tentang siapa yang paling canggih teknologinya, tapi siapa yang paling berdaulat atas idenya. Kita butuh dukungan kebijakan yang tidak hanya memuja digitalisasi, tapi juga melindungi hak-hak pekerja kreatif dari eksploitasi digital. Menuju Indonesia Emas 2045, modal utama kita bukan lagi sumber daya alam, melainkan isi kepala 270 juta rakyatnya. Jika kita mampu melindungi HKI dan menjaga otentisitas karya, maka kreativitas akan benar-benar menjadi mesin ekonomi yang tak ada matinya.
Daftar Pustaka
Antara News. (2025, April). 5 Film Terlaris April 2025 di Indonesia, Jumbo Cetak Rekor Baru!.5 film terlaris April 2025 di Indonesia, Jumbo cetak rekor baru! - ANTARA News
BPS. (2025, November 18). BPS: Jumlah Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif Naik Menjadi 27,4 juta. Tempo.co.https://www.tempo.co/ekonomi/bps-jumlah-tenaga-kerja-ekonomi-kreatif-naik-menjadi-27-4-juta-2090627.
IGN SEA. (2023, Oktober 16). Mojiken Studio Wins Big at Indonesia Game Awards 2023 with A Space for the Unbound. https://sea.ign.com/igdx/207526/news/mojiken-studio-wins-big-at-indonesia-game-awards-2023-with-a-space-for-the-unbound.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2024, Agustus 12). Siaran Pers: Nilai Tambah Ekonomi Kreatif Capai 55,65 Persen dari Target Tahun 2024. https://www.kemenpar.go.id/kebijakan/siaran-pers-nilai-tambah-ekonomi-kreatif-capai-5565-persen-dari-target-tahun-2024.
Nasakti. (2025, Mei). Tantangan dan Dampak AI pada Industri Kreatif Indonesia 2024-2025. Info Singkat DPR RI, XVII(9).https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info%20Singkat-XVII-9-I-P3DI-Mei-2025-2417-EN.pdf.
Pemerintah Republik Indonesia. (2022). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif. JDIHBPK RI. https://peraturan.bpk.go.id/Details/216815/pp-no-24-tahun-2022.
Radha, N. L. R. K., Sunarta, I. N. S., & Indra, G. I. B. (2024). The Impact of Social andEconomic Changes of Digital Nomadic on Tourists and the Local Community in Canggu International Journal of Technology and Education Research, 2(4), 50-55. https://doi.org/10.63922/ijeter.v2i04.1196.
Sketsa Unmul. (2024, Februari 3). #TolakGambarAI: Perlawanan Seniman Lokal terhadap Maraknya Penggunaan AI Di Dunia Seni. https://www.sketsaunmul.co/opini/tolakgambarai-perlawanan-seniman-lokal-terhadap-maraknyapenggunaan-ai-di-dunia-seni/baca.

