Biografi Kyai Haji Abdullah Faqih Langitan, Tuban -->

Biografi Kyai Haji Abdullah Faqih Langitan, Tuban

Jumat, 20 September 2019

 Kyai Haji Abdullah Faqih Tuban Jawa Timur

Kabar Nusantara - KH. Abdullah Faqih terlahir dari pasangan Kyai Rofi'i dan Nyai Khadijah. Pasangan ini dikaruniai 3 putra yaitu Abdullah Faqih, Khozin dan Hamim. Namun semenjak kecil kepengasuhan berada dibawah KH. Abdul Hadi Zahid, Pengasuh Ponpes Langitan generasi ke-4. Ini terjadi lantaran ayahanda beliau wafat semenjak KH. Abdullah Faqih masih kecil, kurang lebih umurnya 7 - 8 tahun sebagaimana yang dikatakan oleh KH. Muhammad Faqih putra beliau. Dan ibunya dinikah oleh KH. Abdul Hadi Zahid, semenjak itulah 3 bersaudara itu berada dibawah bimbingan KH. Abdul Hadi Zahid. KH. Abdullah Faqih sendiri lahir bertepatan pada tanggal 2 Mei 1932 M.

Bermain bersama penuh canda-tawa dan tangis di satu kesempatan. Bedanya, mereka bertiga berada dalam suasana yang kental nilai-nilai religiusnya. Dibawah arahan KH. Abdul Hadi Zahid yang alim  mereka menjalani kehidupan. Waktu terus berjalan dan dengan berjalannya waktu ketiga saudara ini sudah menunjukkan watak dan karakter yang berbeda. Abdullah Faqih dan Hamim suka bergelut dengan kitab-kitab keagamaan sementara Khozin muda senang dengan bepergian. Bahkan diriwayatkan beliau sempat melancong sangat lama dan dicari-cari oleh ayahandanya. Setelah ditemukan ternyata beliau berada di luar Jawa dan sudah berkeluarga. Hingga kini beliau menetap di Bandung. Tinggal KH. Abdullah Faqih dan adiknya Hamim yang masih senang bergelut dengan dunia keagamaan. Setelah belajar pada ayahnya, kini tibalah saatnya Abdullah Faqih muda pergi mencari ilmu.

Pindah satu tempat ke tempat lain guna mencari ilmu dan kalam hikmah. Jika melihat kealiman beliau dalam membaca kitab dan memberikan fatwa mungkin kita akan berpikir bahwa beliau mondok dalam kurun waktu yang lama. Dan faktanya terbalik, beliau hanya mondok selama 4 tahun. Dalam sebuah kesempatan beliau pernah bercerita bahwa : "Di Lasem mondok 2 setengah tahun di Senori 6 bulan setelah itu 1 bulan pindah ke pesantren lain. Total semuanya tidak lebih dari 4 tahun".
Meskipun nyantri hanya sekitar 4 tahun namun konsentrasi dan usahanya dalam memperoleh ilmu sangat luar biasa. Tidak hanya sebatas pada indra dengsn membaca dan mengamati pelajaran, namun beliau juga menggunakan dasar batin. Selama mondok selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah swt dengan segala kelebihan dan kekurangan  beliau selama proses menuntut ilmu.
Kondisi prihatin diterima oleh beliau dengan ikhlas. Karena ini termasuk pembelajaran kesederhanaan dalam mengarungi kehidupan. Cara ini juga diterapkan beliau dalam mendidik putra-putranya, dengan kondisinya yang begitu namun ilmu beliau bersinar. Menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman (Dirasah Islamiyah). Selama menjadi santri beliau telah mengambil ilmu dari guru-guru utama. Mereka adalah pakar ilmu keislaman dan selalau istiqamah menjalankannya. Berikut beberapa guru-guru beliau :

Di Lasem
KH. Baidhowi
KH. Ma'shum
KH. Fathurrahman
KH. Maftuhin
KH. Manshur
KH. Mashduqi
Di Bangilan
KH. Abu Fadhol serta guru-guru lainnya
Selain 2 tempat diatas juga pernah beliau menjadi santri di Pondok Pesantren lain seperti di Watu Congol yang diasuh oleh KH. Dalhar. Di tempat ini pula, pernah  mondok Abuya Dimyathi Pandeglang, Banten.