Iklan

,

Mentan Amran Apresiasi Pertanian Jatim pada HUT ke-81, Khofifah Perkuat Peran sebagai Lumbung Pangan Nasional

Kabar Nusantara
Selasa, 13 Oktober 2026, 15.26 WIB Last Updated 2026-10-13T08:26:05Z

 


Kabar Nusantara - SURABAYA, 13 OKTOBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta Forkopimda Jatim menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Jawa Timur dalam rangka Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Senin (12/10).


Menariknya, rapat paripurna istimewa kali ini turut menghadirkan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman yang menyampaikan orasi ilmiah sekaligus mengapresiasi perkembangan produksi berbagai komoditas Jawa Timur yang memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan pangan nasional.


“Selamat Hari Jadi Jawa Timur yang ke-81. Luar biasa, Jawa Timur berkembang dengan pesat, khususnya sektor pertanian. Produksi padi nomor satu, jagung nomor satu, ayam dan telur nomor satu, gula juga nomor satu, susu juga nomor satu,” ujar Mentan Amran.


Jawa Timur menempati posisi nomor satu di Indonesia untuk komoditas padi, jagung, daging, ayam, dan susu. Keunggulan berbagai komoditas tersebut memperkuat peran Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional sekaligus penopang ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia.


Menurut Amran, capaian tersebut tidak terlepas dari kekompakan jajaran pemerintah daerah dan DPRD dalam mendukung pembangunan. Sinergi antarlembaga menjadi kekuatan penting untuk menjaga peningkatan produksi dan memperkuat sektor pertanian.


“Luar biasa Ibu Gubernur, Pak Wagub, Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD, dan anggota DPRD kompak semua. Inilah hasilnya kalau kompak, produksinya naik,” katanya.

Amran juga menyampaikan rencana penguatan dukungan pemerintah pusat melalui pembangunan fasilitas grand parent stock (GPS) di Jawa Timur untuk mendukung penyediaan bibit bagi berbagai wilayah Indonesia.


“Kami akan bangun grand parent stock (GPS), satu-satunya di Indonesia itu di Jawa Timur, dan itu akan menyuplai nanti seluruh Indonesia,” katanya.

Menanggapi apresiasi tersebut, Gubernur Khofifah menegaskan komitmen Pemprov Jatim untuk terus memperkuat perannya sebagai lumbung pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan.


Komitmen itu menjadi bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, sesuai semangat peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur yang mengusung tema “Jatim Unggul, Maju, Berkelanjutan”.

“Melalui Jatim Agro, kita memperkuat peran Jawa Timur sebagai lumbung pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan,” tegasnya.


Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa produksi padi Jawa Timur pada 2025 mencapai lebih dari 10,4 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan kontribusi sebesar 17,34 persen terhadap produksi nasional.

Kinerja positif tersebut diproyeksikan berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi Januari hingga November 2026, produksi padi Jawa Timur diperkirakan mencapai 10,24 juta ton GKG, dengan pertumbuhan sebesar 2,84 persen.


Untuk menjaga capaian tersebut, Pemprov Jawa Timur terus mendorong pengembangan Jatim Agro-Hub, penguatan irigasi, hilirisasi, korporasi pertanian, serta regenerasi petani. Selain padi, komoditas jagung, tebu, daging, susu, telur, dan perikanan turut menjadi kekuatan daerah dalam menopang kebutuhan pangan nasional.

Menurutnya, penguatan produksi perlu didukung pengembangan konektivitas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan akses pelayanan dasar. Dengan demikian, hasil produksi dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Seluruh agenda tersebut dijalankan melalui sembilan program prioritas Nawa Bhakti Satya yang tertuang dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025–2029. Kesembilan program itu meliputi Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Akses, Jatim Agro, Jatim Cerdas, Jatim Sehat, Jatim Berkah–Amanah, Jatim Harmoni, dan Jatim Lestari.

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa pelaksanaan Nawa Bhakti Satya sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran tersebut diwujudkan melalui keterhubungan produksi, pasar, investasi, dan potensi daerah.


“Peran ini bertumpu pada kemampuan Jawa Timur menghubungkan produksi dengan pasar, mempertemukan investasi dengan potensi daerah, serta memperkuat hubungan ekonomi antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur,” jelas Khofifah.

Pada semester I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,45 persen. Jawa Timur juga mengembangkan 13 kawasan industri, dua kawasan ekonomi khusus, serta kawasan industri halal.


Selain itu, Jawa Timur menyuplai hampir 80 persen logistik di 17 provinsi di Indonesia, memperkuat perannya dalam rantai pasok nasional, sekaligus membuka peluang pasar bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, dan industri.

Untuk menjaga capaian yang ada, Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan Jatim Agro-Hub, penguatan irigasi, hilirisasi, korporasi pertanian, dan regenerasi petani. Selain padi, komoditas jagung, tebu, daging, susu, telur, serta perikanan juga menjadi kekuatan Jawa Timur dalam menopang kebutuhan pangan nasional.


Lebih lanjut, Khofifah menegaskan, penguatan sektor pertanian perlu berjalan seiring dengan pengembangan konektivitas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan akses pelayanan dasar. Nantinya, produktivitas daerah dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurut Khofifah, peran Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara bertumpu pada kemampuan menghubungkan produksi dengan pasar, mempertemukan investasi dengan potensi daerah, serta memperkuat hubungan ekonomi antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur.


Pada semester I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,45 persen. Jawa Timur juga mengembangkan 13 kawasan industri, dua kawasan ekonomi khusus, serta kawasan industri halal. Selain itu, Jawa Timur menyuplai hampir 80 persen logistik di 17 provinsi di Indonesia, memperkuat perannya dalam rantai pasok nasional.

“Peran ini bertumpu pada kemampuan Jawa Timur menghubungkan produksi dengan pasar, mempertemukan investasi dengan potensi daerah, serta memperkuat hubungan ekonomi antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur,” jelas Khofifah.


Capaian pembangunan Jawa Timur tidak hanya tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produksi sektor pertanian, tetapi juga dari berbagai indikator kesejahteraan masyarakat serta penguatan layanan publik.

Pada bidang kesejahteraan, tingkat kemiskinan Jawa Timur pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,06 persen, menurun dibandingkan 9,50 persen pada tahun sebelumnya. Kemiskinan ekstrem tercatat sebesar 0,29 persen pada 2025.


Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 berada di angka 3,42 persen. Capaian tersebut menjadi landasan bagi Pemprov Jatim untuk terus memperkuat program pengentasan kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Penguatan kesejahteraan turut ditopang peningkatan konektivitas dan layanan transportasi publik. Trans Jatim kini beroperasi di delapan koridor, terdiri atas tujuh koridor yang melayani kawasan Gerbangkertosusila dan satu koridor di Malang Raya.


Sejak 2022 hingga 2026, layanan ini telah melayani hampir 23 juta penumpang dengan tingkat okupansi rata-rata 103,3 persen. Adapun koridor baru direncanakan diluncurkan pada 30 Oktober 2026.

Konektivitas infrastruktur juga diperkuat melalui pembangunan Jalan Pantai Selatan (Pansela) di Kabupaten Tulungagung yang telah tersambung sepanjang 51,56 kilometer. Selain itu, segmen Gending–Paiton sepanjang sekitar 24 kilometer pada ruas Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi telah dibuka untuk uji coba.


Penguatan konektivitas diharapkan memperluas akses terhadap investasi, pariwisata, perdagangan, dan pelayanan dasar, termasuk di kawasan selatan, Madura, pesisir, dan kepulauan.

Selain infrastruktur, Khofifah menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian penting dari pembangunan Jawa Timur. Di bidang pendidikan, Pemprov Jatim terus memperkuat kualitas pembelajaran melalui program Jatim World Class Education, Beasiswa Santri Unggul, penguatan pendidikan vokasi, serta kolaborasi dengan King's College London.


Upaya tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan belajar sekaligus mencetak talenta yang berdaya saing internasional.

Sementara di bidang kesehatan, hingga September 2026 sebanyak 96,12 persen warga Jawa Timur telah terlindungi jaminan kesehatan. Angka harapan hidup masyarakat juga mencapai 75,36 tahun. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan yang inklusif dan responsif.


Pada aspek tata kelola pemerintahan, transformasi digital dikembangkan melalui Ekosistem Majapahit Digital atau MAJADIGI yang mengintegrasikan layanan publik dan administrasi pemerintahan. Hingga September 2026, integrasi tersebut telah mencakup 241 layanan untuk mendukung pemerintahan yang bersih, efektif, transparan, dan partisipatif.

Di sektor ekonomi, Jawa Timur terus memperkuat basis industri dan hilirisasi melalui pengembangan 13 kawasan industri, dua kawasan ekonomi khusus, serta kawasan industri halal. Jawa Timur juga menyuplai hampir 80 persen logistik di 17 provinsi di Indonesia, memperkuat perannya dalam rantai pasok nasional sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, dan industri.


Meski demikian, Khofifah menegaskan pembangunan harus tetap memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Melalui Jatim Lestari, Pemprov Jatim mengusung prinsip “Membangun sembari Merawat Alam” melalui pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, serta penerapan ekonomi hijau dan ekonomi sirkular.

Pembangunan juga berjalan beriringan dengan upaya merawat kerukunan, kebudayaan, dan ruang bagi masyarakat untuk berprestasi. Dalam bidang olahraga, atlet Jawa Timur turut menyumbangkan prestasi bagi Indonesia pada Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026. Salah satunya, Rahmat Erwin Abdullah yang meraih medali emas angkat besi kelas 75 kilogram sekaligus memecahkan rekor dunia.


Khofifah menyampaikan, perjalanan 81 tahun Jawa Timur merupakan hasil perjuangan, kerja keras, dan pengabdian lintas generasi. Maka dari itu, capaian pembangunan yang telah diraih perlu dilanjutkan melalui peningkatan kualitas kebijakan, profesionalisme pemerintahan, dan pelayanan publik.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DPRD memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Kemitraan ini, menurutnya, perlu dibangun melalui keterbukaan, dialog, dan kesediaan untuk mendengarkan aspirasi publik.


“Hubungan antara Pemerintah Provinsi dan DPRD merupakan kemitraan strategis yang menentukan kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah,” katanya.

“Pandangan kritis Dewan, aspirasi yang dihimpun dari masyarakat, serta rekomendasi pengawasan menjadi masukan berharga untuk memperbaiki pelaksanaan pembangunan,” imbuhnya.


Kendati demikian, Ia mendorong konsistensi antara RPJMD, rencana kerja tahunan, dan penganggaran daerah. Kualitas belanja harus terus ditingkatkan agar setiap anggaran digunakan secara tertib, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan dan evaluasi berbasis data juga perlu diperkuat agar hambatan pelaksanaan program segera ditangani.

Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD Jatim, pemerintah pusat, Forkopimda, bupati dan wali kota, jajaran pemerintahan, TNI, Polri, instansi vertikal, mitra pembangunan, serta seluruh masyarakat yang berkontribusi dalam pembangunan Jawa Timur.


Ia berharap kemitraan antarlembaga terus diperkuat agar kebijakan pembangunan semakin berkualitas dan manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

“Falsafah ‘Jer Basuki Mawa Beya’ mengingatkan kita bahwa keberhasilan memerlukan kesungguhan, kerja keras, dan pengorbanan. Nilai tersebut menjadi pegangan dalam menjalankan amanat rakyat,” ungkapnya.