Mengapa Flexing Bukan Sekedar Pamer?
Di era digital ini, eksistensi manusia tidak lagi ditentukan oleh pepatah Cartesian “Cogito, ergo sum” “Aku berpikir, maka aku ada”, tapi sudah bergeser menjadi “I post, therefore I am” atau “aku memposting, maka aku ada”. Media sosial telah mengubah lanskap bagaimana manusia berinteraksi dan menilai sesamanya. Salah satu fenomena paling mencolok yang dapat langsung terlihat yaitu flexing yaitu kebiasaan untuk memamerkan kekayaan, kemewahan, atau gaya hidup glamor di ruang public virtual.
Secara kasat mata, flexing mungkin terlihat seperti perilaku pamer konensional yang biasa dilakukan manusia sejak zaman dahulu. Namun, jika kita gali lebih dalam, flexing di media sosial hari ini telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks. Kita menyaksikan fenomena dimana orang orang mulai menyewa studio foto yang punya interior mirip tempat mewah hanya demi sebuah konten, memamerkan paper bag kosong dari merek mewah, hingga merekayasa saldo rekening digital demi mendapat predikat “crazy rich”. Fenomena ini menunjukkan sebuah pergeseran fundamental dimana status sosial tidak lagi diukur dari apa yang benar benar kita miliki di dunia nyata, melainkan dari apa yang berhasil kita citrakan di sosial media. Artikel ini akan membedah fenomena tersebut menggunakan pisau analisis Jean Baudrillard untuk menunjukkan bagaimana flexing sebenarnya adalah industry ilusi yang perlahan-lahan menghancurkan realitas sosial.
Konsep Simulacra & Jual Beli Simbol
Filsuf postmodern asal Prancis, Jean Baudrillard, dalam karyasastra monumentalnya Simulacra and Simulation, berpendapat bahwa Masyarakat kontemporer telah bergeser dari Masyarakat produksi menjadi Masyarakat konsumsi. Menariknya, apa yang kita konsumsi hari ini bukan lagi objek atau barang berdasarkan nilai gunanya, melainkan berdasarkan nilai tandanya (sign value). Nilai tanda adalah symbol status, prestise, identitas, dan gaya hidup yang melekat pada barang tersebut.
Di sinilah frasa “membeli ilusi” menemukan konteksnya. Ketika seorang creator konten memaksakan diri membeli tas branded, menyewa mobil mewah, atau mendatangi kafe estetik yang mahal, tujuan utamanya bukanlah fungsi dari objek-objek tersebut. Tas tidak lagi sekadar wadah penyimpan barang, dan mobil bukan lagi sekadar alat transportasi. Mereka sedang membeli “tanda” atau ilusi berupa pengakuan sosial, rasa hormat, dan label kelas atas yang melekat pada simbol-simbol kemewahan tersebut. Dalam ekosistem media sosial, tanda ini memicu akumulasi likes, followers, dan validasi digital yang menjadi mata uang baru dalam stratifikasi sosial modern.
Membedah Flexing Lewat Empat Tahap Citra Baudrillard
Baudrillard memetakan bagaimana sebuah citra (representasi) berevolusi hingga akhirnya kehilangan hubungan sama sekali dengan realitas, yang ia sebut sebagai tahap simulakrum murni (Pure Simulacrum). Fenomena flexing di media sosial dapat kita bedah secara presisi melalui empat tahapan perkembangan citra ini:
- Tahap 1: Citra yang Jujur
Pada tahap ini, citra adalah Salinan yang jujur dari kenyataan. Dalam konteks pamer, seseorang yang memang memiliki kekayaan membeli barang mewah karena kualitas dan kemampuan finansialnya yang nyata. Ketika ia mengunggahnya ke media sosial, foto tersebut merepresentasikan realitas yang sebenarnya di dunia nyata.
- Tahap 2: Penyimpangan Realita
Di tahap ini, seseorang dengan kondisi ekonomi biasa saja atau bahkan kekurangan memaksakan diri membeli barang mewah secara kredit atau berutang demi bisa melakukan flexing. Di sini, konten media sosial digunakan sebagai topeng untuk menutupi atau menyembunyikan realitas kecemasan finansial yang sedang dialami di dunia nyata.
- Tahap 3: Menyembunyikan Ketidakhadiran Realitas
Tahap ketiga ini sudah melangkah lebih jauh dimana citra berpura-pura memiliki hubungan dengan realitas, padahal realitas itu sebenarnya tidak ada. Ini adalah fenomena dimana orang melakukan flexing dengan cara meminjam barang teman, berfoto di depan mobil sport milik orang asing atau mengambil foto di butik mewah tanpa membeli apapun. Di sini, realitas kepemilikan sudah sama sekali absen, yang tersisa hanyalah manipulasi visual.
- Tahap 4: Pure Simulacrum
Inilah puncak dari fenomena flexing kontemporer. Pada tahap ini, citra tidak lagi memiliki kaitan sama sekali dengan realitas apapun, justru ia menjadi realitasnya sendiri. Kita melihat adanya influencer ata selebgram yang seluruh narasi kekayaannya adalah hasil rekayasa total. Mulai dari agensi yang menyewakan seluruh gaya hidup mereka hingga penggunaan AI dan CGI. Citra kekayaan palsu ini tidak lagi meniru kekayaan orang di dunia nyata, melainkan orang di dunia nyata yang justru menjadi terobsesi dan akhirnya meniru standar kehidupan “palsu” yang diciptakan oleh simulasi digital tersebut. Realitas asli telah mati, digantikan oleh perayaan simulasi yang absolut.
Dampak Sosial: Lahirnya Hyperreality
Ketika Masyarakat secara kolektif terjebak dalam aktivitas “merayakan simulasi” ini, lahirlah apa yang disebut Baudrillard sebagai hyperreality. Hyperreality adalah kondisi dimana batas antara yang nyata dan imajiner telah runtuh. Sesuatu yang palsu atau simulatif terasa jauh lebih nyata, lebih indah, dan lebih meyakinkan daripada realitas kehidupan sehari-hari.
Dampak sosial dari hiperrealitas flexing ini sangat destruktif bagi psikologis Masyarakat. Jutaan pengguna media sosial yang terpapar konten flexing setiap hari mulai mengalamisindrom kecemasan akut (FOMO dan status anxiety). Mereka membandingkan kehidupan nyata mereka yang biasa, membosankan, dan penuh perjuangan dengan kehidupan simulasi di Instagram yang tampak tanpa cela, penuh kemewahan dan serba instan. Akibatknya, muncul rasa miskin yang semu, depresi, dan hilangnya rasa Syukur. Masyarakat menganggap bahwa standar hidup yang “nyata” adalah apa yang ada di layar gawai mereka, padahal layar tersebut hanyalah panggung sandiwara simulakrum.
Pada akhirnya, fenomena flexing di media sosial membuktikan kebenaran tesis Jean Baudrillard bahwa kita hari ini hidup didalam dunia yang dipenuhi oleh simulakrum. Kita berada di era dimana “kulit” telah berhasil mengubur “isi”, dan kemasan dianggap jauh lebih berharga disbanding esensi.
Melalui konten konten pamer, manusia modern rela menghabiskan energi psikologis, waktu, bahkan materi yang nyata hanya demi merawat dan memberi makan sebuah ilusi digital. Kita merayakan simulasi kelimpahan materi di dunia maya, sambil perlahan lahan membiarkan realitas sosial, hubungan interpersonal yang autentik, dan kedamaian jiwa kita mengalami kebangkrutan yang nyata. Selama kita masih mengukur eksistensi diri dari seberapa mewah tanda yang kita pamerkan, selama itu pula kita akan terus menjadi tawanan dalam ruang kaca simulasi yang semu.
Penulis : Gabriella Putri
Mahasiswa Program Studi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Editor : Diky Istianto

