Pertanyaan itu pernah menghampiri Azkaa Khoirunnisa, murid kelas IX MTs Nurul Ulum Bantul, beberapa hari sebelum mengikuti Lomba Kader Kesehatan Remaja Pondok Pesantren Tingkat Kabupaten Bantul yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul pada Rabu, 12 Agustus 2026. Di tengah rutinitas sebagai santri yang harus membagi waktu antara belajar di madrasah, menghafal Al-Qur’an, dan mengikuti berbagai kegiatan pondok, Azkaa harus mempersiapkan diri menghadapi peserta-peserta terbaik dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Bantul.
Malam-malamnya tidak lagi hanya diisi dengan hafalan dan tugas sekolah. Ia menambah waktu belajar tentang kesehatan remaja, kebersihan lingkungan pesantren, gizi, hingga keterampilan komunikasi sebagai kader kesehatan. Ada kalanya rasa lelah datang lebih dulu daripada rasa percaya diri. Namun setiap kali ingin menyerah, ia teringat bahwa kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Hari perlombaan pun tiba. Sejak pagi, suasana kompetisi sudah terasa. Di hadapannya berdiri para peserta dengan persiapan yang tidak kalah matang. Ketika namanya dipanggil, Azkaa menarik napas panjang. Gugup masih ada, tetapi ia memilih melangkah. Satu demi satu pertanyaan dijawab, materi disampaikan, dan kemampuan yang selama ini ditempa dalam diam mulai menemukan panggungnya.
Menjelang berakhirnya rangkaian lomba, pengumuman pemenang dibacakan.
“Juara III Lomba Kader Kesehatan Remaja Pondok Pesantren Tingkat Kabupaten Bantul diraih oleh Azkaa Khoirunnisa dari MTs Nurul Ulum Bantul.”
Nama itu menggema, bukan hanya sebagai milik seorang murid, tetapi juga sebagai kebanggaan bagi madrasah dan pondok pesantren yang telah membesarkannya.
“Awalnya saya benar-benar tidak yakin bisa mendapatkan juara. Saat melihat peserta dari pondok-pondok lain, saya sempat merasa minder. Tetapi saya mencoba mengingat semua proses latihan yang sudah saya jalani. Ketika nama saya disebut sebagai Juara III, rasanya seperti semua rasa lelah selama persiapan terbayar. Saya bersyukur dan ingin terus belajar agar bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi teman-teman di lingkungan pesantren,” ungkap Azkaa Khoirunnisa.
Kepala MTs Nurul Ulum Bantul, Dani Ismantoko, menilai bahwa kemenangan tersebut bukan hanya tentang sebuah piala, melainkan tentang karakter yang tumbuh melalui proses.
“Prestasi Azkaa mengajarkan bahwa keberanian sering kali lahir bukan karena seseorang tidak takut, tetapi karena ia memilih melangkah meskipun sedang takut. Di MTs Nurul Ulum kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama dan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kesehatan, dan kepemimpinan. Azkaa telah menunjukkan bahwa santri mampu bersaing dan berprestasi di tingkat kabupaten dengan kerja keras, disiplin, dan doa,” ujar Dani Ismantoko.
Bagi MTs Nurul Ulum Bantul, kemenangan ini menjadi cerita yang lebih besar daripada sekadar peringkat. Ini adalah kisah tentang seorang santri yang belajar mengalahkan keraguannya sendiri, tentang proses yang dijalani dengan tekun, dan tentang keyakinan bahwa dari ruang-ruang kelas sederhana serta lingkungan pesantren yang penuh disiplin, dapat lahir generasi muda yang siap memberi manfaat bagi masyarakat.
Kadang, kemenangan memang tidak dimulai dari tepuk tangan. Ia dimulai dari langkah kecil yang berani diambil saat tidak ada seorang pun yang benar-benar yakin. Dan Azkaa Khoirunnisa telah membuktikan bahwa langkah kecil itu dapat mengantarkan seseorang menuju panggung prestasi.

