Iklan

,

OPINI - Industri Film dalam Ekosistem Industri Kreatif di Indonesia

Kabar Nusantara
Minggu, 04 Januari 2026, 12.06 WIB Last Updated 2026-01-04T05:06:55Z

ilustrasi foto dok pribadi


Kabar Nusantara - Industri film kerap dipersepsikan melalui hasil akhirnya, seperti film yang tayang di bioskop, capaian di film festival, atau jumlah penonton yang banyak di bioskop. Namun, apabila dilihat dari pengalaman produksi film di tingkat kampus, industri film justru tampak melalui proses yang panjang dan kompleks. Proses tersebut mencakup pengembangan ide, kerja kolektif dalam tim, keterbatasan sarana produksi, hingga persoalan distribusi karya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia sebagai bagian dari industri kreatif masih menghadapi berbagai tantangan struktural.


Kegiatan produksi film di lingkungan kampus memperlihatkan bahwa kreativitas tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan sistem kerja yang jelas. Pada tahap awal, gagasan dan motivasi umumnya cukup tinggi. Akan tetapi, ketika memasuki tahap produksi, berbagai kendala mulai muncul, seperti keterbatasan pendanaan, akses terhadap peralatan yang belum memenuhi standar industri, serta pembagian kerja yang belum terorganisasi secara profesional. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di ranah pendidikan, tetapi juga merepresentasikan permasalahan yang dialami pembuat film skala kecil dan independen di industri film nasional.


Secara kebijakan, film telah ditempatkan sebagai salah satu subsektor strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif, seiring meningkatnya konsumsi konten audiovisual dan pertumbuhan platform digital. Meskipun demikian, struktur industri film Indonesia masih cenderung terpusat pada pelaku dengan modal dan jaringan distribusi yang kuat. Di sisi lain, pelaku film pemula menghadapi keterbatasan akses terhadap pembiayaan. Skema pendanaan yang tersedia belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan produksi film skala kecil, sementara pemanfaatan kekayaan intelektual sebagai instrumen pembiayaan masih berada pada tahap awal implementasi.


Selain aspek pembiayaan, distribusi juga menjadi tantangan yang signifikan. Di tingkat kampus, sebagian besar karya film hanya diputar secara internal atau dipublikasikan melalui media sosial. Pola serupa dapat ditemukan di industri nasional, di mana akses ke bioskop dan pasar arus utama masih terbatas dan kompetitif. Kehadiran platform streaming memang membuka alternatif distribusi, namun juga menuntut standar produksi yang lebih tinggi dan konsistensi sistem kerja yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh pembuat film skala kecil.


Berdasarkan pengalaman produksi di tingkat kampus, dapat disimpulkan bahwa industri film Indonesia tidak mengalami kekurangan sumber daya kreatif. Namun, tanpa dukungan struktur yang memadai, proses produksi dan pembelajaran cenderung tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan industri film perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan output dan capaian penonton, tetapi juga pada penguatan sistem pendukung yang memungkinkan proses kreatif tumbuh secara berjenjang, mulai dari ranah pendidikan hingga industri profesional.


Penulis : Melda Nurhayati, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang



Referensi

https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2449/industri-kreatif-dan-digital-kembangkan-potensi- gerakkan-ekonomi-dan-ciptakan-lapangan-kerja

https://en.antaranews.com/news/397738/indonesia-plans-film-financing-push-to-protect-ip-attract- investors

https://www.kompas.id/artikel/tantangan-eksistensial-film-indonesia-di-era-transformasi-digital- global

https://www.antaranews.com/berita/4035876/tenaga-di-balik-layar-jadi-tantangan-dalam-industri-film