Iklan

,

Pembelajaran Satwa dan Ekosistem Darat Untuk Mendukung SDG 4 dan SDG 15

Redaksi Kabar Nusantara
Selasa, 25 November 2025, 23.09 WIB Last Updated 2025-11-25T16:09:31Z


Kabar Nuswantara -  Yogyakarta, 11 Oktober 2025 - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui mahasiswa Program Studinya Psikologi melaksanakan kegiatan "Mengenal Satwa & Merawat Bumi Kita" sebagai bentuk kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 yaitu Pendidikan Berkualitas dan SDG 15 yaitu Ekosistem Daratan. Program ini bertujuan memberikan pengalaman belajar langsung kepada anak-anak dari kelompok marjinal melalui edukasi satwa dan aktivitas konservasi lingkungan yang mudah dipahami. Kegiatan dilaksanakan di Jogja Exotarium Mini Zoo dengan melibatkan 15 anak binaan Komunitas Sekolah Marjinal beserta volunteer pendamping. Inisiatif ini berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka putus sekolah dan minimnya akses pendidikan alternatif bagi anak-anak dari keluarga ekonomi menengah kebawah.


Kegiatan ini merupakan implementasi dari mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan yang diampu oleh Dr. Fitriana Tjiptasari, S.I.P., M.A. Tim pelaksana terdiri dari Nayla Shahira sebagai koordinator program, Nahari Choirunnisa sebagai koordinator dokumentasi, dan Khalisha Rafa I.H. sebagai koordinator lapangan. Pelaksanaan program ini bekerja sama dengan Komunitas Sekolah Marjinal (KSM) sebagai mitra lapangan yang selama ini aktif memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak pemulung dan keluarga buruh di Yogyakarta. Latar belakang kegiatan ini sejalan dengan data BPS 2024 yang mencatat 78.468 anak putus sekolah dengan lebih dari 70% disebabkan faktor ekonomi, sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di wilayah pedesaan hanya 7,2 tahun, jauh tertinggal dari perkotaan yang mencapai 10,5 tahun.


Komunitas Sekolah Marjinal dipilih sebagai mitra karena visi dan misinya yang sejalan dengan tujuan program. KSM berdiri sejak 10 November 2019 dengan misi memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak terpinggirkan. Berawal dari lapak pemulung di Kledokan, Babarsari, Sleman, komunitas ini sempat menghadapi tantangan berat ketika digusur pada pertengahan 2022 dan harus berpindah ke Tambak Bayan. Meskipun demikian, semangat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak marjinal tidak pernah padam, saat ini KSM telah berkembang menjadi komunitas solid dengan sekitar 95 anggota aktif dan telah melahirkan lebih dari 100 relawan hingga angkatan ke-13.


Keunikan KSM terletak pada pendekatan pembelajarannya yang humanis dan membebaskan, berbeda dari sistem sekolah formal yang cenderung rigid. Anak-anak diberi kebebasan mengeksplorasi kreativitas melalui permainan, diskusi, dan aktivitas menarik tanpa tekanan akademik. Mengingat anak-anak binaan KSM mayoritas berasal dari lingkungan penuh tekanan ekonomi, ruang belajar yang aman dan menyenangkan menjadi sangat penting. Namun, salah satu keterbatasan yang dihadapi adalah minimnya pengalaman belajar di luar ruang kelas, khususnya tentang alam dan lingkungan, yang menjadi fokus utama program "Mengenal Satwa & Merawat Bumi Kita".


Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan meliputi jelajah satwa dengan pendampingan personal, penanaman pohon, serta edukasi konservasi lingkungan secara langsung kepada seluruh peserta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati, tetapi juga membangun kesadaran sejak dini bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. "Banyak anak-anak ini belum pernah melihat satwa secara langsung, apalagi berinteraksi. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka wawasan mereka bahwa belajar bisa menyenangkan dan lingkungan itu perlu dijaga sejak sekarang," ujar Nayla Shahira, koordinator program. Seluruh rangkaian kegiatan ini secara langsung mendukung indikator SDG 4 mengenai pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan serta SDG 15 mengenai perlindungan keanekaragaman hayati.


Salah satu fokus utama adalah interaksi langsung dengan berbagai jenis satwa untuk menumbuhkan empati dan pemahaman tentang ekosistem. Anak-anak diajak mengunjungi area rusa, kambing, domba, kelinci, kura-kura, monyet, hingga reptil seperti ular. Sesi reptil menjadi momen paling menarik karena anak-anak berkesempatan melihat dan memegang ular secara langsung dengan bimbingan petugas. "Awalnya banyak yang takut, tapi setelah dijelaskan ternyata mereka jadi penasaran dan berani. Ekspresi mereka saat berhasil memegang ular itu luar biasa, ada rasa bangga dan percaya diri yang muncul," ungkap Nahari Choirunnisa, koordinator dokumentasi yang mengabadikan setiap momen tersebut.


Aktivitas penanaman pohon yang dilakukan juga mengadopsi pendekatan edukatif yang mudah dipahami anak-anak. Setiap peserta menanam bibit sambil mendapat penjelasan tentang manfaat pohon bagi kehidupan, seperti menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida, mencegah erosi, dan menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup. Menurut koordinator lapangan, Khalisha Rafa I.H., metode ini dipilih agar anak-anak tidak hanya sekadar menanam tetapi benar-benar memahami makna dari tindakan tersebut. "Kami pastikan setiap volunteer menjelaskan dengan bahasa sederhana kenapa pohon itu penting. Dari situ, anak-anak jadi tahu bahwa tindakan kecil seperti menanam bisa berdampak besar untuk bumi," ungkap Khalisha. Pendekatan ini sangat berguna karena pembelajaran berbasis pengalaman langsung terbukti lebih efektif dalam membentuk kesadaran dan perilaku positif jangka panjang.


Setelah rangkaian aktivitas edukatif selesai, peserta beristirahat dan menikmati makan siang bersama dalam suasana penuh kehangatan. Anak-anak juga diberi kesempatan membeli jajanan sendiri dengan pendampingan volunteer sebagai latihan mengelola uang sederhana. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto di berbagai spot menarik Jogja Exotarium sebagai kenang-kenangan yang akan diingat anak-anak. Momen-momen santai ini juga menjadi kesempatan bagi volunteer untuk membangun kedekatan emosional dengan anak-anak, sehingga tercipta ikatan yang bermakna antara pendamping dan peserta.


Kegiatan ditutup dengan sesi kesan dan pesan di gazebo yang menjadi momen refleksi paling menyentuh sepanjang program. Anak-anak menyampaikan rasa senang dan pengalaman baru yang diperoleh, mulai dari keberanian memegang ular hingga kebanggaan setelah menanam pohon. Para volunteer juga berbagi refleksi tentang pembelajaran yang diperoleh terkait empati, kesabaran, komunikasi dengan anak-anak, serta kepekaan sosial terhadap kelompok marjinal. Sesi ini memperlihatkan bahwa program tidak hanya memberikan dampak bagi anak-anak, tetapi juga bagi mahasiswa yang terlibat sebagai volunteer dalam mengembangkan soft skills dan kesadaran sosial.


Program "Mengenal Satwa & Merawat Bumi Kita" memberikan dampak positif yang signifikan bagi semua pihak yang terlibat. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas, berinteraksi langsung dengan satwa, dan memahami cara menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana. Sementara itu, mahasiswa memperoleh kesempatan mengaplikasikan ilmu, meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja tim, serta memperkuat kepedulian sosial. Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian SDGs serta mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pemerataan akses pendidikan bagi generasi mendatang. 


Link Video Kegiatan : https://www.instagram.com/reel/DRTp-ydgZ9M/?igsh=NW4wamFseHkxbTJl