Kabar Nusantara - Jakarta, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar
kegiatan Komunitas Pembelajar (Community of Practice/CoP) “Ngopi di Taman” pada
Triwulan 3, dengan tema Pelayanan Pemakaman. Kegiatan yang diikuti oleh
sekitar 150 peserta ini membahas mekanisme pelayanan pemakaman, regulasi
perpetakan makam, ketersediaan lahan, hingga tata cara pemulasaran jenazah
secara bermartabat.
Acara
ini menjadi wadah berbagi pengetahuan di lingkungan Dinas Pertamanan dan Hutan
Kota, sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan pelayanan publik yang
transparan, responsif, dan bebas pungutan liar. Tema ini juga sejalan dengan
visi RPJPD DKI Jakarta 2005–2025, yakni menciptakan kota global yang aman,
nyaman, sejahtera, dan berkelanjutan, serta mendukung pencapaian Sustainable
Development Goals (SDG 11) tentang kota dan komunitas berkelanjutan.
Kepala
Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, M. Fajar Sauri, dalam sambutannya menegaskan
pentingnya pelayanan pemakaman yang bebas dari stigma negatif. “Kami
memiliki komitmen nol toleransi terhadap praktik pungutan liar di TPU.
Pelayanan pemakaman adalah hak masyarakat yang harus dijalankan dengan penuh
tanggung jawab dan akuntabilitas,” ujarnya.
Sementara
itu, Siti Hasni, Kepala Bidang Pemakaman, selaku pemantik materi menjelaskan
bahwa DKI Jakarta mengelola 80 TPU dengan rata-rata 70 pemakaman per hari,
termasuk lima pemakaman gratis bagi warga tidak mampu. “Ketersediaan lahan
memang menjadi tantangan, tetapi dengan sistem perpetakan yang transparan,
regulasi Pergub Nomor 38 Tahun 2023, serta inovasi digital, pelayanan bisa
lebih efektif dan terkontrol,” jelasnya.
Sebagai
moderator, D. Badiah Mujiarti menekankan bahwa forum komunitas pembelajar
menjadi media yang efektif untuk membangun budaya berbagi. “Diskusi ini
membuka ruang bagi para ASN, petugas TPU, dan pemangku kepentingan untuk saling
bertukar pengalaman. Dari sini lahir gagasan konkret yang dapat langsung
diimplementasikan di lapangan,” ungkapnya.
Dari
sisi pendampingan, para widyaiswara seperti Farihah Sulasiah, M.K.M. dan Ratna
Sari Susanti, S.E., M.Si., Ak. menyoroti pentingnya dokumentasi pengetahuan. “Aset
tacit knowledge yang muncul dari pengalaman para petugas sangat berharga. Jika
didokumentasikan dengan baik, itu bisa menjadi panduan berkelanjutan bagi
pelayanan pemakaman yang bermartabat,” ujar Farihah.
Konsultan
pendamping dari PT Madep Jakarta juga memberikan pandangan. Yossi Srianita
menilai CoP ini sedang bergerak dari level 3 menuju level 4 dalam APQC
Knowledge Management Maturity. “Artinya, sudah ada standarisasi, tetapi
perlu penguatan dalam pengelolaan data, SOP, serta dukungan teknologi digital
agar pelayanan lebih terukur,” terangnya.
Didik
Purwandanu menambahkan, “Infrastruktur digital harus dipacu, terutama untuk
memetakan ketersediaan lahan makam secara real time. Dengan analisis data, kita
bisa melakukan prediksi yang lebih akurat dan menghindari keluhan masyarakat.”
Sementara
itu, Deni Casmadi menekankan pentingnya peran kepemimpinan. “Keterlibatan
pimpinan tidak boleh sebatas pada pembukaan acara. Dukungan kebijakan,
anggaran, dan monitoring berkelanjutan adalah kunci agar budaya pembelajar ini
benar-benar melekat di jajaran organisasi,” ujarnya.
Di
sisi lain, saat dihubungi secara terpisah, Kepala Pusdatin BPSDM Pemprov DKI
Jakarta, Andika Pratama, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan CoP yang
berlangsung di ruang terbuka. “Pelaksanaan CoP di taman memberi suasana yang
segar dan juga menghadirkan nuansa kebersamaan. Ini bisa menjadi sharing
session yang efektif untuk meningkatkan praktik Knowledge Management yang lebih
maju dan berkembang di lingkungan Pemprov DKI Jakarta,” ungkapnya.
Kegiatan
ini menghasilkan beberapa capaian, di antaranya peningkatan kesadaran peserta
terhadap regulasi pemakaman hingga 85 persen, rencana implementasi SOP
pelayanan di 10 TPU prioritas, serta komitmen penguatan repositori pengetahuan
melalui Portal KM BPSDM. Ke depan, hasil diskusi TW3 akan dilanjutkan pada
Triwulan 4 dengan fokus pada evaluasi implementasi serta penguatan dokumentasi
aset pengetahuan.
Dengan
semangat kolaborasi antara ASN, petugas TPU, widyaiswara, konsultan PT Madep,
serta dukungan BPSDM, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota berharap pelayanan
pemakaman di Jakarta dapat semakin bermartabat, transparan, dan mendukung
reputasi Jakarta sebagai kota global yang inklusif.

